JOMBANG, FaktualNews.co – Tariske Valentine (23), warga Dusun Sanggar, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, terus setia menekuni seni pembuatan Barongan Jepaplok topeng khas dalam pertunjukan tradisional Jawa.

Tak hanya berkarya, Tariske juga menjadi salah satu pelestari seni budaya yang gigih menjaga warisan leluhur agar tidak punah dimakan zaman. Dengan kepiawaiannya mengukir kayu waru krisik, memadukan warna-warni cat, serta semangat pelestarian yang tinggi, karya-karyanya tetap hidup dan diminati generasi muda.

“Saya bukan hanya sekadar membuat, tapi juga memiliki tujuan melestarikan budaya Jawa lewat kesenian barongan atau jepaplokan. Saat ini sudah banyak orang yang mulai menyukai kesenian ini, jadi saya tergerak untuk turut melestarikannya,” ungkap Tariske.

Barongan atau Jepaplok buatan Tariske tidak hanya menarik dari sisi seni, tetapi juga sarat makna filosofis. Menurutnya, barong kerap digambarkan sebagai sosok naga berjubah raja, dengan filosofi mendalam tentang budi pekerti.

“Sepengetahuan saya, barong itu diibaratkan naga. Di kepalanya terdapat jamang, atau mahkota, yang bermotif naga liman simbol akulturasi tiga unsur mitologi yakni burung paksi, naga, dan gajah liman. Jepaplok menggambarkan raja yang berwatak jahat, dan itu menjadi simbol perlunya pengendalian diri dalam kehidupan,” jelasnya.

Tariske telah menekuni dunia barongan selama sembilan tahun. Karyanya tidak hanya digemari di Jombang, tetapi juga merambah luar daerah, termasuk Kalimantan dan Sumatra.

“Pemesanan sudah sampai ke Kalimantan dan Sumatra. Di Jawa Timur juga banyak, seperti dari Jombang, Kediri, Mojokerto, hingga Surabaya,” ujarnya.

Proses pembuatan barongan memiliki tingkat kesulitan tersendiri, terutama saat membentuk kepala barong yang membutuhkan presisi tinggi.

“Bagian tersulit adalah membuat kepala barong, karena bentuk kanan dan kirinya harus simetris. Prosesnya bisa memakan waktu hingga satu bulan, tergantung kerumitan desainnya,” katanya.

Harga barongan buatan Tariske bervariasi, mulai dari Rp4 juta hingga Rp7,5 juta, tergantung tingkat kerumitan. Harga tersebut belum termasuk kostum pelengkap.

Permintaan barongan biasanya meningkat menjelang bulan Agustus, saat banyak daerah mengadakan pertunjukan seni untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Biasanya pesanan ramai di bulan Juni, Juli, dan Agustus karena banyak acara seni untuk Agustusan,” pungkas Tariske.(Wahyu)