Peristiwa

Pandemi Covid-19, Terkena PHK Seorang Gadis di Kediri Tawarkan Diri Via Online

KEDIRI, FaktualNews.co – Suara adzan salat subuh dari sebuah corong masjid baru selesai dikumandangkan, Saat itu pula, Mira (bukan nama asli) bergegas menuju indekos yang berada di salah satu gang sempit di wilayah Kota Kediri.

Sampai di persinggahan sementaranya itu, ia berberes membersihkan sisa-sisa sampah dan puntung rokok yang belum sempat dibersihkan.

Selanjutnya, Mira yang berumur sekitar 20 tahun tersebut lantas membuka telepon pintarnya di aplikasi media sosial (Medsos) Facebook, Twitter. Di saat itu juga, ia mulai mengirim ke berbagai grup di FB dan mengetwit beberapa kata. “Biasanya saya tuliskan, “Ready Jam 07.00 WIB,” kata Mira menjelaskannya.

Beberapa kata tersebut sengaja dan khusus ia tunjukan kepada “Pria Hidung Belang” pengguna Medsos, sebagai kode bahwa ia siap melayani  hasrat seksual siapapun, dengan tarif yang telah ditentukan.

“Itu untuk menyamarkan saja malu kalau ketahuan,” katanya.

Ya, Mira merupakan salah satu dari sekian banyak Pekerja Seks Komersil (PSK) yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran diri ditengah pandemi covid yang mengancam kesehatan ini.

Dulunya dia merupakan Sales Marketing (SM) di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang alat kesehatan. Namun, karena kondisi pandemi perusahaan yang ia ikuti mengeluarkan kebijakan sepihak mem-PHKnya.

“Terpaksa begini, karena kebutuhan yang sangat banyak, musimnya lagi susah, apalagi saya di PHK sekarang,” katanya.

Dari cerita Mira, dirinya merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayah dan ibunya bercerai sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Mira dan adik kandungnya tinggal bersama sang ibu, sedang sang ayah sudah tidak pernah menafkahinya dan sang adik.

Diusianya yang terlampau muda beban keluarga harus ditanggung, kebingungan hidupnya menjadi makanan sehari-hari yang selalu harus dipecahkan.

“Saya juga harus menanggung adik saya yang masih bersekolah, Ibu sendiri kerja serabutan, tetapi penghasilannya tidak menentu, ya mau tidak mau,” ucapnya.

Ia akui, ijazah yang hanya sampai di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tanpa banyak pengalaman kerja menambah rentetan keruwetan hidupnya setelah di PHK.

“Sudah pernah banyak mencoba melamar di berbagai perusahaan. Akan tetapi tidak dipanggil karena saya akui saya belum punya banyak pengalaman kerja, ijazah saya cuma SMK,” katanya.

Alih-alih untuk berhenti dari pekerjaan tersebut, Mira justru terperosok lebih dalam. Kini tiga bulan sudah ia melakoni pekerjaan haram tersebut, dan didalam hatinya sangat menyesal, namun dibalik itu, kebutuhannya juga semakin banyak.

“Maunya berhenti, siapa sih mau bekerja seperti ini, tapi ya bagaimana, saya juga bingung,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang sangat ia takuti didalam melakukan praktik prostitusi tersebut. Di antaranya yakni terkena penyakit menular HIV dan tertular virus Corona. Namun ketakutan tersebut ia akui sirna setelah melihat kondisi keluarganya yang memang terbilang membutuhkan.

“Takut kena Corona, kan lagi musimnya ini. terlebih apabila terkena penyakit HIV atau menyakit menular sek lainnya.” akunya.

Selain itu, Mira juga mengisahkan awal mula ia terjebak di dunia prostitusi online. Bermula saat ia butuh uang tambahan untuk membayar angsuran kredit yang ia tanggung.

Saat itu ia meminjam kepada teman lamanya ketika masih SMP, di tengah pertemuannya dengan kawan lama tersebut. Mira ditawari untuk melakukan pekerjaan itu, dengan iming-iming uang yang cukup menggiurkan.

“Perjam katanya Rp 400 sampai Rp 500 ribu, kerjanya ya dilakukan sendiri uangnya diambil sendiri tanpa ada campur tangan orang lain,” tuturnya.

“Mulanya saya tidak mau, ya kan kerjanya begitu, haram. Apalagi saya tahu agama, tetapi lambat lain saya tertarik melakukannya, karena ya itu tadi, kebutuhan.” lanjut Mira.

Sedang modus yang dilakukan Mira yakni dengan memosting di medsos lalu dihubungi lelaki hidung belang. Jika telah sama-setuju dengan harga keduanya akan bertemu di indekos Mira untuk melakukan hubungan badan.

Dari keterangan Mira, lelaki hidung belang yang memboking dirinya dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, PNS bahkan ada juga yang mengaku menjadi aparat keamanan. Kesemuanya tidak dari Kediri, ada juga yang dari luar kota dan sedang berkunjung di Kediri.

“Ada yang mengaku oknum Polisi, Tentara, tetapi tidak memakai seragam. Kalau dirata-rata umurnya banyak yang masih muda antara 19 sampai 29 lah umurnya,” katanya.

Penyesalan sekarang ratapnya, hanya menambah gundah gulana hatinya. Dibalik itu semua ia harus tetap mencari pundi-pundi rupiah untuk penghidupan keluarga dan sekolah sang adik yang masih di tingkat SMP.

Mira hanya berharap kedepan Tuhan berbaik hati dan menunjukan jalan terbaik untuk kehidupannya dan keluarga.

“Kalau ditanya kapan berhenti, saya tidak berani jawab, dan saya juga tidak tahu harus seperti apa di hidup saya ini,” sesalnya.