Gaya Hidup

Kisah Pemuda Surabaya Mendapat Kemampuan Supranatural, Lelaku Hingga Bertapa di Banyuwangi

SURABAYA, FaktualNews.co – Bintang Timur Diponegoro, seorang pemuda 37 tahun asal Kota Surabaya mengaku mempunyai kemapuan supranatural. Kemampuan itu dia peroleh sejak dirinya ditemui dan diajak sosok makhluk astral ke dunia lain pada tahun 2008 silam.

Awal ceritanya, Bintang Timur Diponegoro, adalah seorang anak band. Saat itu kehidupannya bersama istri tidak ada perubahan dalam dirinya. Dia menyebut hidupnya stagnan.

Pada saat itu, dirinya berada di titik jenuh hingga putus asa terlebih lagi saat ditinggal sosok orang tua (Ayah). Peristiewa duka itu menambah putus asa dalam hidupnya.

Namun pada suatu ketika, ia tidak bisa tidur dan duduk di depan kamar. Saat duduk itu, dia melihat ada sosok bayangan hitam melompat-lompat di rumah.

Setelah melihat sosok hitam itu, ia pun memanggil istri dan menceritakan apa yang dia lihat. Sehingga istrinya meminta ia untuk membersihkan diri dengan (cuci tangan dan kaki) untuk berdoa dan tidur.

Namun pada saat masuk ke dalam kamar dan mata belum tertutup erat, tiba-tiba dari atas plafon rumah hingga menembus plafon ada sosok tinggi besar dan hitam menindih dirinya dengan posisi kaki tepat di atas dadanya.

“Sebelum mata saya terpejam erat, ada sosok tinggi besar menembus plafon rumah dan kakinya menindi dada saya yang terasa berat,” kata Bintang Timur Diponegoro, Minggu (31/1/2021).

Bintang menambahkan, saat ia membuka mata, ternyata sosok tinggi besar itu berbulu lebat dan di atas kepalanya memakai mahkota seperti jaman kerajaan. Dan tangan makhluk itu lebih besar hingga empat kali lipat dari ukuran normal tangan manusia.

“Saat saya melihat makhluk itu, terlihat sangat tinggi dan menjulang keatas hingga menembus plafon kamar saya,” tambahnya.

Dijelaskan lebih jauh, makhluk itu berbicara pada dirinya bahwa akan mengajak ia jalan-jalan. Disaat itu makhluk tersebut menarik rambutnya hingga rohnya keluar dari raganya. Setelah itu, ia pun dimasukkan kedalam sabuk yang dipakai oleh makhluk tersebut.

Dari situ dia diajak ke tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan tidak tahu itu dimana. Setelah melihat ke atas, ternyata langit berwarna jingga. Terasa tidak ada angin di tempat itu dan rasanya hampa.

“Saat saya melihat tempat itu rasanya hampa dan seperti tidak ada kehidupan,” jelasnya.

Di tempat itu, dia melihat ada jalan setapak dengan dua gerbang berwarna hitam dan putih. Ia diminta menengok ke arah kanan dan kiri. Jalan setapak yang dilalui mengeluarkan api, sementara di kanan dan kiri, dia melihat banyak jeritan suara manusia minta tolong.

“Saya diminta menengok kanan-kiri oleh makhluk itu, saat saya menengok ada jerit manusia kesakitan,” ucapnya.

Kemudian makhluk tersebut mengajak masuk ke gerbang warna putih. Jalannya terbuat dari emas dan dingin meski kondisi terasa hampa. Di sebelah jalan, kanan dan kiri, ia melihat batu permata.

Makhluk itu terus mengajak berjalan. Dia kemudian melihat ada satu pohon dan ada pagar besi warna perak yang bercahaya. Mahluk mengatakan, pohon tersebut adalah pohon kehidupan.

“Saat makhluk itu mengajak saya masuk gerbang warna putih, saya merasakan dingin dan sejuk. Hingga melihat batu permata,” tambahnya.

Saat kembali naik ke lebih atas, dirinya melihat ada sebuah gorden warna putih yang tertiup angin. Di belakang gorden itu terlihat ada tangga terbuat dari emas dan sebuah kursi besar yang juga terbuat dari emas.

Usai melihat tangga dan kursi, kemudian terdengar suara yang ditujukan kepada dirinya.

“Kamu belum saatnya ada di sini. Saat kembali dari sini kamu harus membantu orang dengan tulus dan ikhlas,” begitu dia menirukan suara yang ditujukan kepadanya.

Saat akan keluar gerbang putih, ada suara Ibunya yang memanggil-manggil namanya untuk meminta pulang. Setelah mendengar suara Ibunya itu, ia pun akhirnya bisa kembali pulang ke rumah.

Saat ia membuka mata, ternyata di dalam kamar sudah banyak orang termasuk Ibu dan istrinya.

Orang tuanya, ujar dia, berkata bahwa dia dalam posisi tidak gerak selama enam jam. Yang membuat keluarganya kawatir.

“Saya mendengar suara ibu saya meminta saya pulang, saat itu akhirnya saya bisa pulang kembali ke rumah,” pungkasnya.

Keesokan harinya, saudara dan orang tuanya datang ke rumahnya untuk merawat dia selama dua minggu di Surabaya. Alhasil, dia mendapatkan perawatan dan dibawa ke Banyuwangi untuk dimandikan dengan air laut.

Setelah mandi di laut dia pun lupa dengan semuanya termasuk dengan istri dan anak.

Saudara dari orang tuanya saat itu menyampaikan, bahwa dia akan akan membantu untuk mempertajam Bintang.

Bintang tidak mengetahui maksud dan tujuan saudara orang tuanya yang mengatakan “dipertajam”.

Bintang pun diminta untuk melakukan meditasi di dalam hutan Solong yang ada di Banyuwangi selama 1,5 tahun lamanya.

Setelah selesai, diakhir meditasinya ia diminta untuk kembali meditasi di tempat lain yakni di Gunung Giri yang juga ada di Banyuwangi selama tiga bulan. Disana ia meditasi di makam Eyang Buyut Putri Sayu Sartika dan Kuda Tilarso.

Usai menjalankan itu semua, Bintang kembali ke rumah saudara ibunya di Banyuwangi. Dan menceritakan apa yang dia alaminya selama meditasi di Gunung Giri.

Saat itu dia merasa seperti disentil tepat di tengah kedua matanya, yang membuat ia merasa kesakitan.

Kejadian itu pun ia ceritakan kepada saudara ibunya, dan disebutkan bahwa ia akan bisa “melihat”. Namun kembali lagi Bintang tidak mendapatkan penjelasan secara detail yang dimaksud okeh saudara ibunya itu.

“Setelah saya kembali ke rumah saudara ibu saya setelah meditasi selama tiga bulan, saya kembali ke rumah saudara orang tua saya dan menceritakan semua apa yang terjadi kepada saya saat meditasi di Gunung Giri,” jelasnya.

Menjelang Maghrib, saudara ibunya meminta Bintang untuk kembali meditasi di dalam hutan dengan duduk di sebuah pendopo. Dan ia melihat banyak orang lalu lalang, baik orang dewasa maupun anak-anak yang sedang bermain meski kondisi sudah gelap dan sepi di dalam hutan.

Saat memasuki tengah malam Bintang, kembali diminta untuk meditasi.

“Saat saya meditasi mendengar sura seorang wanita menangis. Saat membuka mata, bahwa wanita itu duduk tepat di depan saya. Dan baru menyadari bahwa wanita yang menangis itu adalah makhluk astral yakni (Kuntilanak),” sebutnya.

Setelah melalui semua proses, Bintang pulang ke rumahnya di Surabaya. Namun sebelum pulang, ia mendapatkan pesan, bahwa dirinya diberi kelebihan oleh Tuhan dan nantinya bisa mengobati orang sakit.

Saat ia tiba di rumah, istri dan anaknya tidak mengenali dirinya. Karena kondisinya yang sudah berubah 100 persen dibanding saat sebelum ia pergi ke Banyuwangi. Saat pulang itu, ia berambut gondrong dan berewok.

Beberapa hari di rumah, ia didatangi makhluk astral yang membuat istrinya merasa bingung. Istrinya melihat dia berbicara sendiri. Sehingga, keluarga menyangka bahwa Bintang halusinasi bahkan gila.

“Saya ini didatangi oleh makhluk astral, dan saya berbicara. Namun istri saya justru menganggap saya halusinasi bahkan menganggap saya gila,” jelas Bintang.

Untuk meyakinkan istri dan orang tuanya, Bintang butuh waktu sampai dua tahun lamanya. Dia menceritakan semua apa yang terjadi padanya selama berada di Banyuwangi.

Setelah itu baru orang tua dan istrinya memberi dukungan dan percaya bahwa Bintang mendapatkan ilmu supranatural dan bisa menyembuhkan orang sakit.

Dari kisahnya itu, Bintang Timur Diponegoro mengaku bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan melakukan tindakan sosial dengan membantu banyak orang dengan ilmu yang ia miliki saat ini.