DAKAR, FaktualNews.co – Sinegal memiliki masjid terbesar di Afrika Barat, sepadan dengan populasi warga muslim yang mencapai 95 persen dari total jumlah penduduk.

Namun demikian, setiap tahun saat perayaan Natal, jalan-jalan dan alun-alun kota di negara itu dipenuhi dengan lampu-lampu dan etalase dipenuhi dengan perada serta pohon Natal.

Pedagang kaki lima membawa topi tengkorak dan tasbih menenun masuk dan keluar lalu lintas di Pasar Sandaga Dakar yang sibuk. Ini adalah hari biasa di negara mayoritas muslim ini, hari di mana kita mudah menemui sopir taksi menepi untuk salat di trotoar dan masjid, bahkan di pantai.

Namun pada bulan Desember, para pedagang di Senegal juga menjajakan perada yang berkilauan, ornamen logam, dan pohon Natal plastik.

Ndiaga Gueye menjual pohon Natal dengan harga antara $ 20 hingga 50, tergantung ukurannya. Dia mengatakan, biasanya dua pohon natal dagangannya bisa terjual setiap hari.

Bagaimana warga Senegal mendamaikan keyakinan agama Islam-nya dengan cinta tulus pada perayaan natal umat kristiani?

“Sebagian besar warga muslim yang membeli pohon-pohon itu. Senegal adalah negara sekuler. Semua orang sama. Umat Kristen berpartisipasi dalam liburan Muslim dan Muslim melakukan hal yang sama selama liburan Kristen. Tapi, kebanyakan Muslim yang membeli pohon Natal,” kata Ndiaga.

Direktur bisnis Abibou Dadh mengatakan, pelanggannya menyukai dekorasi. “Orang kristiani Senegal juga merayakan hari libur Muslim seperti Idul Adha, Festival Kurban, yang dikenal sebagai Tabaski,” katanya.

“Dewasa ini orang-orang Kristen merayakan Tabaski dan saudara-saudara kristiani kami menemani kami dengan merayakannya bersama kami,” katanya.

“Jadi, normal bagi kami umat Islam untuk mencoba menemani orang-orang kristiani merayakan Natal bersama mereka. Kami adalah orang-orang yang bersatu. Kami semua sama. Tidak ada perbedaan. Tentunya masing-masing menghormati yang lain dalam perbedaan dan agamanya. ”

Meskipun berpenduduk mayoritas muslim, setiap tahun suasana Natal begitu terasa di Sinegal. Di restoran Patisseries des Ambassades, pelayan memakai topi dan celemek Santa Claus. Sementara di luar, seorang pria, Abdou Khadre Diop, mengenakan setelan Santa Claus dan duduk di kereta luncur. Di belakangnya ada kereta kuda yang menggelinding di sepanjang jalan.

Cuaca saat ini mencapa 80 derajat dan cerah, tetapi si Diop mengatakan kostum dan janggut yang berat itu tidak mengganggunya. Ketika dia masih kecil, dia mengatakan orang tuanya akan membawanya untuk duduk di pangkuan Santa. Sebuah yang kenangan indah bagi Diop.

Dia mengatakan, suasana Natal menunjukkan inklusi sosial yang begitu lazim di negara mereka. Mereka bersatu, mereka satu. Ketika warga muslim merayakan hari besar meraka, warga kristiani ikut serta, dan sebaliknya. Ini menunjukkan kohesi sosial dan kekuatan Senegal.