JOMBANG, FaktualNews.co – Cheil Jedang Indonesia (CJI) menjalin kerjasama bersama PWI dan dinas lingkungan hidup {DLH) kabupaten Jombang menggelar tanam pohon bersama. Acara yang digelar di desa Pakel, kecamatan Bareng tersebut selain untuk pelestarian lingkungan juga untuk peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2025 serta Hari Strategi Konservasi Sedunia.

Kegiatan yang diawali dengan rangkaian adat budaya desa Pakel yang bertajuk ‘Tumpak Tandur Bumi Wono Ndadari’ tersebut, tampak makin meriah. Diawali dengan penampilan bapak dan ibu Wono Ndadari yang secara simbolis menyerahkan bibit pohon bantuan, ditambah sejumlah seni tari budaya khas desa Pakel, makin menyemarakkan acara yang berada di sebuah tanah lapang tersebut.

Amang Suprantiyo Eksternal Relation dari PT.CJI mengatakan, kegiatan penanaman pohon dengan budaya tumpak tandur bumi wono ndadari tersebut merupakan sesuatu hal terunik yang merupakan peninggalan tradisi zaman kerajaan Majapahit. “Ini merupakan salah satu tradisi yang cukup menarik, selain tanam pohon untuk bumi kegiatan ini benar-benar menarik minat kami orang dari luar wilayah. Semoga kedepan penampilan seperti ini bisa dilakukan setiap waktu sehingga mampu menjadikan desa Pakel menjadi salah satu tujuan wisata,” ulas Amang.

Dirinya juga menambahkan, selain diundang dalam kegiatan tersebut, PT.CJI juga menyediakan seribu tanaman cabai sebagai salah satu bentuk ketahanan pangan. “Secara bertahap kita akan menyerahkan 1000 tanaman cabai, hal ini merupakan salah satu komitmen kita terhadap ketahanan pangan di Indonesia,” tukasnya. Kepala Desa Pakel, Sudarmaji sendiri mengucapkan rasa syukur atas pemberian bibit cabai tersebut. Menurutnya tanaman itu akan disebar disejumlah lahan milik desa agar nantinya desa Pakel dikenal dengan salah satu sebutan desa penghasil cabai.

“Terima kasih atas bantuan 1000 cabai ini, semoga setelah bisa dipanen, desa Pakel bisa dikenal dengan sebutan desa lombok (cabai),” seloroh Sudarmaji yang disambut applaus oleh peserta yang ada. Selain itu ia menyebutkan, tumpak tandur bumi wono ndadari sendiri merupakan salah satu adat yang berhubungan dengan setiap kelahiran anak dipastikan akan ada tradisi tanam pohon. Dengan harapan hal-hal baik akan membersamai anak yang lahir di desa Pakel dan manfaatnya bisa dinikmati hingga dewasa.

Adapun bibit pohon yang ditanam disesuaikan dengan jenis kelamin anak yang lahir, jika laki-laki maka menanam pohon keras sedangkan jika perempuan menanam pohon berbuah. “Kegiatan ini tiap tahun di bulan Desember sampai maret, sebagai pengingat anak lahir dipusakai dengan pohon sesuai dengan harapan orangtuanya,” lanjutnya. Pemerintah sendiri menyetujui adat itu. Menurut kepala DLH, Miftachul Ulum, kebiasaan atau adat yang baik bisa diadopsi wilayah lain, terutama dengan menjaga lingkungan hidup dengan penanaman pohon.

“Dari kegiatan ini membuat kita memahami bahwa tanggungjawab orangtua kepada anak yang dilahirkan tidak hanya secara materi, namun juga menyiapkan oksigennya salah satunya dengan penanaman pohon,” katanya. Pihaknya juga memberi apresiasi terhadap gerakan peduli lingkungan yang dilakukan desa Pakel, juga dengan kolaborasi sejumlah pihak untuk bersama bersinergi menjaga alam. Penghargaan dan rasa terimakasihpun diucapkan kepada seluruh pihak yang hadir untuk bersama menjaga bumi lestari bagi anak cucu.