Tertekan dan Dianiaya, Perempuan di Jombang Bongkar Kekerasan Seksual oleh Oknum Perangkat Desa
JOMBANG, FaktualNews.co – Seorang perempuan berinisial SP (34), warga Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, mengungkapkan pengalaman traumatis yang diduga merupakan bentuk kekerasan seksual dan psikis oleh seorang oknum perangkat Desa Ngogri berinisial OS.
Meski terlihat tenang dari luar, SP mengaku menyimpan luka emosional yang dalam. Ia mengatakan telah mengalami tekanan mental, rasa bersalah, dan ketakutan yang terus menghantuinya selama bertahun-tahun.
Kisah bermula dari hubungan pertemanan antara SP dan OS. Awalnya, OS dianggap sebagai sosok yang perhatian. Namun, hubungan tersebut kemudian berkembang menjadi relasi yang penuh tekanan emosional dan diduga mengarah pada pelecehan seksual.
“Saya merasa terjebak. Setiap permintaannya saya turuti, meskipun hati saya menolak. Seolah saya tidak bisa berkata tidak,” ungkap SP melalui pernyataan tertulis.
SP mengaku permintaan OS tidak hanya berkaitan dengan hal materi, namun juga menyentuh ranah pribadi dan seksual. Ketika mencoba menjaga jarak, OS diduga mulai mengintimidasi dengan mengancam menggunakan foto dan video pribadi.
“Dia mengancam akan menyebarkan foto dan video. Saya takut dilaporkan ke polisi, dan takut keluarga tahu. Saya merasa tidak punya pilihan,” lanjutnya.
Selain ancaman, SP juga menyebut mengalami kekerasan fisik dan tekanan ekonomi. Ia mengaku pernah mendapat perlakuan kasar, bahkan nyaris mengakhiri hidupnya karena merasa tertekan.
“Pernah pipi saya dicengkeram karena saya menolak. Saya juga hampir bunuh diri di hadapannya karena sudah tidak sanggup,” ujarnya.
SP juga menyebut OS kerap meminjam uang tanpa pernah mengembalikan. Namun, ia menegaskan bahwa saat ini yang ia inginkan hanyalah kebebasan, bukan uang tersebut kembali.
“Saya rela tidak dibayar, asalkan bisa lepas. Tapi saya merasa seperti dikurung, tidak tahu harus ke mana,” katanya.
Karena sakit berkepanjangan, SP sempat menjalani pemeriksaan medis. Hasilnya menunjukkan tidak ada gangguan fisik, dan ia dirujuk ke layanan kesehatan jiwa.
“Saya bukan orang gila. Saya hanya butuh keadilan,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Ngogri, Agus Lishartitik, mengaku tidak mengetahui kasus tersebut. “Ngapunten, ora krungu opo-opo mas, (Maaf tidak dengar apa-apa mas)” ujarnya singkat.
Sementara itu, Kepala Inspektorat Kabupaten Jombang, Abdul Majid Nindyagung, menyebut pihaknya telah memfasilitasi mediasi antara SP dan OS di Kantor Kecamatan Megaluh. Namun, kasus itu hanya ditangani sebagai persoalan perselingkuhan.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada Kepala Desa untuk menindaklanjuti,” katanya.
SP membantah keras jika disebut sebagai pelaku perselingkuhan. Ia menegaskan dirinya adalah korban manipulasi emosional dan tekanan seksual. Saat ini, ia tengah mempertimbangkan untuk melaporkan kasus ini ke Women Crisis Center (WCC) Jombang.(Wahyu)


