JOMBANG, FaktualNews.co-Alih-alih menghabiskan waktu liburan dengan bermain gawai, atau hanya berdiam diri di rumah. Sejumlah siswa MTsN 16 Jombang memilih kegiatan yang berbeda dan edukatif.

Mereka mengisi masa liburan sekolah dengan melakukan penelitian kandungan mikroplastik dalam air hujan di Kabupaten Jombang.

Kegiatan penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton).

Para siswa mengumpulkan sampel air hujan dari empat lokasi berbeda di Kabupaten Jombang, lalu menelitinya di laboratorium sekolah menggunakan mikroskop.

Salah satu peserta penelitian, Ananda Ayu, mengaku senang bisa mengisi liburan dengan kegiatan ilmiah. Menurutnya, kegiatan ini membuat liburan terasa lebih bermanfaat.

“Supaya di rumah tidak main HP saja. Kita bisa meneliti dan menambah pengetahuan tentang air hujan,” ujarnya.

Dari hasil pengamatan, para siswa menemukan berbagai jenis mikroplastik dalam air hujan. “Kami menemukan sekitar 11 mikroplastik jenis fiber, 5 fragmen, dan 1 foam,” jelas Ananda.

Ia menambahkan, penelitian ini menjadi pengalaman pertama bagi dirinya dan juga pertama kali dilakukan di MTsN 16 Jombang. Proses penelitian dimulai dari menampung air hujan, menyaringnya, lalu mengamati partikel yang tidak hancur saat diuji di bawah mikroskop.

“Awalnya kita pikir air hujan itu bersih dan aman karena langsung dari langit. Ternyata ada mikroplastik yang bisa membahayakan tubuh,” katanya.

Temuan ini membuat para siswa semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan. Ananda menyebutkan, langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan tidak membakar sampah.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa mikroplastik dalam air hujan berasal dari partikel mikroplastik di udara.

“Mikroplastik di udara ini berasal dari aktivitas manusia sehari-hari. Kontributor terbesarnya adalah pembakaran sampah plastik, kemudian kendaraan bermotor,” jelas Rafika.

Dari empat lokasi penelitian, kandungan mikroplastik terbanyak ditemukan di Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, yang merupakan kawasan padat penduduk dan industri.

Sedangkan kandungan paling sedikit ditemukan di Kecamatan Tembelang, yang lokasinya dekat dengan MTsN 16 Jombang.

Rafika menegaskan bahwa pembakaran sampah sebenarnya sudah dilarang melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Namun, praktik tersebut masih sering dilakukan oleh masyarakat.

“Padahal pembakaran sampah menghasilkan mikroplastik yang bisa masuk ke tubuh manusia. Mikroplastik mengandung ribuan bahan kimia berbahaya yang dapat mengganggu hormon dan memicu berbagai penyakit,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar metode penelitian ilmiah, tetapi juga diajak memahami dampak nyata pencemaran lingkungan terhadap kesehatan manusia.

Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari kegiatan mengisi liburan sekolah.