Menteri BKKBN ‘Blusukan’ ke Rumah Reyot Ibu Hamil di Lamongan
LAMONGAN, FaktualNews.co-Suasana Desa Rancang Kencono, mendadak riuh pada Kamis (4/12/2025). Warga berkerumun, tak percaya melihat iring-iringan pejabat pusat memasuki gang sempit yang selama ini jarang tersentuh perhatian pemerintah.
Di antara mereka, sosok Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji,
Mobil hitam bernopol RI 25, pak Menteri turun dari mobil berjalan cepat menuju sebuah rumah reyot yang menjadi tempat tinggal satu keluarga berisiko stunting.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah pelaksanaan tegas dari perintah presiden agar para pejabat turun ke bumi, bekerja langsung di tengah masyarakat, dan tidak tenggelam dalam rapat maupun seminar.
“Jangan banyak diskusi. Kerja, cek lapangan. Menyelamatkan satu orang sama artinya menyelamatkan satu generasi,” ucap Wihaji, Kamis (4/12/2025).
Rumah yang dituju adalah milik Hariyati, ibu hamil delapan bulan yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Begitu masuk, Wihaji melihat langsung dapur yang gelap, lantai tanah lembap, bilik kamar tanpa pintu hanya di tutup kain tirai dan sumber air seadanya potret nyata keluarga yang berjuang di batas minimum kehidupan.
Hariyati hanya bisa menunduk, menahan haru ketika menterinya memeriksa satu per satu kondisi ruang sempit itu.
“Memang layak untuk dibantu,” ujar Wihaji setelah melihat keadaan rumah.
Tanpa menunda waktu, bantuan langsung digelontorkan di tempat seperti. Rumahnya akan direnovasi total agar layak huni, uang tunai diberikan untuk kebutuhan harian, modal usaha digelontorkan untuk rencana ternak ayam, paket sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar dan sepeda motor baru diberikan setelah motor keluarga sebelumnya hilang dicuri.
“Insya Allah rumahnya kita bangunkan. Untuk ekonomi, kita bantu modal. Motornya yang hilang, insya Allah kita ganti,” kata Wihaji.
Bagi pemerintah, membantu Hariyati bukan semata soal kesejahteraan. Ini adalah upaya menyelamatkan bayi yang ia kandung dari ancaman stunting, di tengah angka nasional yang masih berada di 19,8 persen.
“Yang ingin kita selamatkan adalah anak yang akan lahir nanti. Jangan sampai stunting,” tegasnya.
Hariyati mengusap pipinya yang basah. Ia mengaku tak pernah sekalipun membayangkan bahwa seorang menteri akan memasuki rumah kecil yang dihuni sembilan orang itu.
“Alhamdulillah, nggak nyangka dikunjungi langsung. Dapat bantuan sebesar ini. Pak Menteri masuk lihat semuanya,” ucapnya dengan suara bergetar.
Suaminya bekerja jauh di Kalimantan sebagai karyawan warung pecel lele, membuat Hariyati harus bertahan dengan kondisi serba terbatas bersama orang tua dan adik-adiknya.
Kunjungan ini meninggalkan pesan kuat: pemerintah tidak hanya berbicara di atas podium, tetapi hadir langsung menyentuh keluarga yang paling membutuhkan.
Dengan langkah-langkah seperti ini, harapan untuk memutus rantai stunting kian nyata.


