LAMONGAN, FaktualNews.co – Aktivitas di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Lamongan mendadak berubah drastis. Lapak-lapak penjual daging sapi yang biasanya ramai dipadati pembeli, Rabu (15/7/2026), justru tampak tutup. Para pedagang kompak menghentikan aktivitas jual beli sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya harga daging sapi yang dinilai semakin tidak terkendali.

Aksi mogok serentak itu terjadi di Pasar Sidoharjo Lamongan, Pasar Ikan Lamongan, hingga Pasar Made. Selama tiga hari ke depan, para penjual memilih tidak berjualan sambil menunggu adanya solusi terkait harga dari para pemasok.

Menurut Cholis, salah satu penjual daging sapi di Pasar Sidoharjo, keputusan mogok diambil karena harga daging sapi terus merangkak naik, sementara pasokan dari pemasok tidak stabil. Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit.

“Kami ingin ada kesepakatan harga yang ideal antara pedagang dan pemasok, sehingga pedagang tidak merugi dan konsumen tetap bisa membeli daging dengan harga yang wajar,” ujar Cholis.

Ia mengungkapkan, kabar kenaikan harga yang diprediksi masih akan terus berlanjut membuat para penjual semakin khawatir. Jika mereka memaksakan menaikkan harga jual kepada konsumen, risiko kehilangan pembeli tidak bisa dihindari.

“Kalau harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pembeli pasti berkurang. Akhirnya kami yang menanggung kerugian,” katanya.

Dampak aksi mogok itu tidak hanya dirasakan para penjual daging. Pelaku UMKM yang bergantung pada pasokan daging sapi juga ikut terpukul. Sejumlah penjual makanan berbahan dasar daging, seperti rawon, sate, hingga kikil, terpaksa menghentikan usahanya karena kesulitan memperoleh bahan baku.

“Hari ini saya terpaksa tidak berjualan karena tidak ada daging untuk dibuat jualan,” keluh Kaswoto, penjual kikil di Pasar Ikan Lamongan.

Mengacu pada data harga pangan di Jawa Timur, rata-rata harga daging sapi saat ini telah mencapai sekitar Rp126 ribu per kilogram. Pedagang berharap pemerintah segera turun tangan memediasi persoalan harga dan pasokan agar aktivitas perdagangan kembali normal serta tidak semakin membebani masyarakat maupun pelaku usaha kecil.