LAMONGAN, FaktualNews.co-Para petani di Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, tengah dilanda keresahan. Ratusan hektare lahan tanaman padi yang seharusnya siap panen justru roboh dan terendam air akibat hujan deras disertai angin kencang dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini membuat petani terancam merugi dan menghadapi potensi gagal panen.

Salah satu petani asal Desa Mungli, Karj’i (53), mengaku pasrah namun tetap berupaya menyelamatkan sisa-sisa tanaman padinya yang tumbang.

“Padi sudah tinggal panen, tapi malah ambruk semua. Hujan deras, angin besar, roboh semua. Airnya juga belum surut sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui di sawah miliknya, Rabu (20/8/2025).

Keresahan petani semakin bertambah karena hampir seluruh desa di wilayah Kalitengah terdampak, dengan Desa Mungli menjadi salah satu yang paling parah. Banyak petani harus bekerja ekstra menyatukan batang-batang padi yang roboh agar tetap bisa dipanen.

“Sekarang kami terpaksa mengikat padi biar bisa berdiri lagi. Tapi itu butuh banyak tenaga dan biaya. Belum tentu hasilnya juga bagus,” imbuh Karj’i dengan nada lelah.

Selain cuaca, para petani juga menyoroti kualitas benih sebagai salah satu penyebab utama robohnya padi. Banyak dari mereka memilih varietas padi berbulir banyak, namun batangnya lemah dan tidak tahan terhadap angin kencang.

“Petani butuh benih yang kuat. Kalau tiap tahun begini terus, kami bisa bangkrut. Hasil panen terus menurun, tapi biaya tanam makin tinggi,” keluhnya.

Para petani berharap ada perhatian lebih, baik berupa bantuan benih tahan cuaca ekstrem, maupun pendampingan pertanian yang lebih responsif terhadap perubahan iklim.

“Kalau tidak ada solusi, tahun depan bisa lebih parah. Kami butuh dukungan, bukan hanya disuruh bertahan,” pungkasnya.

Hingga kini, belum ada laporan resmi dari pemerintah daerah terkait jumlah kerugian atau rencana bantuan bagi para petani terdampak.