​KEDIRI, FaktualNews.co-Di tengah padatnya kegiatan sekolah, ratusan siswa-siswi SMP Negeri 1 Pagu, Kabupaten Kediri,mendapat kesempatan emas untuk meresapi keindahan warisan budaya Indonesia melalui sebuah pelatihan membatik yang unik dan inspiratif.

​Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek pengabdian masyarakat bertajuk “Pengembangan Inovasi Batik Cap Berbahan Reuseable Material dalam Membangun Ekosistem Entrepreneurship Lokal di Batik Wenangkayana Kediri” yang digagas tim ahli dari Universitas Negeri Malang (UNM). Proyek ambisius ini didanai oleh sumber non-APBN UNM tahun 2025.

​Bukan sekadar membatik biasa, pelatihan ini memperkenalkan sebuah inovasi yang selaras dengan isu keberlanjutan global. Penggunaan material daur ulang (reuseable material) dalam proses pembuatan batik cap.

​“Kami ingin menunjukkan bahwa melestarikan budaya bisa berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan,” ujar salah satu anggota tim UNM.

“Melalui inovasi batik cap berbahan daur ulang ini, siswa tidak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga disadarkan tentang nilai ekonomi dan ekologi dari barang bekas,” imbuhnya.

​Di bawah bimbingan para akademisi UNM, tangan-tangan muda siswa-siswi SMPN 1 Pagu mulai terampil menggoreskan malam dan mencetak motif.

Mereka belajar bahwa setiap motif batik memiliki cerita dan filosofi, menjadikannya lebih dari sekadar sehelai kain namun sebuah narasi visual tentang identitas bangsa.

​Antusiasme terpancar jelas dari wajah para peserta. Beberapa siswa tampak serius menyesuaikan cap dengan pola, sementara yang lain tak henti bertanya tentang proses pewarnaan alami.

Kegiatan ini tak hanya menumbuhkan kreativitas, tetapi juga menanamkan cinta terhadap budaya lokal yang seringkali terlupakan di tengah gempuran budaya asing.

​Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pagu Tri Utami, mengucapkan terima kasih kepada UNM karena telah memilih SMPN 1 Pagu sebagai tempat pengabdian masyarakat.

”Dengan memberikan pelatihan membatik kepada anak-anak kami, besar harapan kami pelatihan ini benar-benar memberi bekal kepada mereka untuk ke depannya, sekaligus mengenalkan mereka pada seni membatik.” ujar Tri Utami, saat dikonfirmasi Kamis (13/11/2025).

​Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menginspirasi siswa agar dapat melihat potensi ekosistem entrepreneurship lokal yang berbasis budaya.

Bekal keterampilan membatik inovatif ini bukan hanya tentang melestarikan warisan seni, tetapi juga membuka pintu menuju peluang wirausaha masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.