JOMBANG, FaktualNews.co – Di tengah serbuan tren hiburan modern, gema kendang dan gamelan Ludruk Budhi Wijaya terbukti belum surut. Kelompok seni legendaris asal Kabupaten Jombang ini terus membuktikan bahwa pesan sosial dalam balutan tradisi masih memiliki tempat di hati penontonnya.

​Dedikasi ini membawa Didik Purwanto, pemimpin Ludruk Budhi Wijaya, meraih penghargaan sebagai “Pilar Pelestari Ludruk Kabupaten Jombang” dalam ajang PWI Jombang Award 2026. Penghargaan tersebut diserahkan langsung di Hotel Yusro, Peterongan, Rabu (8/4/2026) malam.

​Didik merupakan generasi penerus kelompok seni yang didirikan oleh ayahnya, sang maestro Sahid, sejak tahun 1985. Memegang tongkat estafet kepemimpinan sejak 2010, Didik menyadari bahwa mempertahankan tradisi membutuhkan cara-cara baru agar tidak ditinggalkan.

​”Saya mulai membawa ludruk masuk ke ruang digital, menjangkau penonton yang lebih luas, khususnya generasi muda,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

​Meski merambah platform digital, ia menjamin identitas ludruk tetap terjaga. Isu-isu aktual dan kritik sosial dikemas dengan bahasa yang lebih akrab di telinga generasi masa kini. Menurutnya, adaptasi adalah kunci agar warisan sang ayah tidak sekadar menjadi sejarah.

​”Dengan cara itu, ludruk akan tetap relevan tanpa kehilangan identitas aslinya,” ucap Didik.

​Namun, jalan pelestarian ini bukannya tanpa hambatan. Didik mengakui tantangan dana dan menurunnya minat kaum muda menjadi ujian konsistensi. Itulah sebabnya, ia kini gencar mendorong keterlibatan anak muda secara langsung dalam setiap kegiatan ludruk.

​”Saya percaya keberlanjutan kesenian ini sangat bergantung pada generasi yang memahami sekaligus mencintai tradisi,” tuturnya menekankan pentingnya regenerasi.

​Langkah konkret Didik inilah yang memikat perhatian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang.

Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, menegaskan bahwa peran Didik sangat krusial dalam menjaga nyala api kesenian tradisional di tengah arus zaman yang berubah cepat.

​”Sosok seperti Didik dipandang sebagai bagian penting dalam menjaga agar tradisi tetap bertahan,” jelas Mufid.

​Kini, Ludruk Budhi Wijaya bukan sekadar kelompok panggung biasa. Ia menjadi simbol bahwa kesenian rakyat mampu bertransformasi dan menemukan ruang hidupnya kembali, asalkan ada keberanian untuk beradaptasi tanpa harus melupakan akar budayanya.