Pesan Mendalam Rais Aam PBNU di Pembukaan Munas-Konbes Kediri
KEDIRI, FaktualNews.co – Suasana sakral dan khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, pada Sabtu malam (20/6/2026) malam. Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) PBNU resmi dibuka, menandai pertemuan strategis para petinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Prosesi pembukaan berlangsung unik dan simbolis. Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, membuka forum dengan menabuh kentongan sebanyak sembilan kali. Angka ini bukan sekadar hitungan, melainkan simbol spirit Wali Songo serta cerminan bintang sembilan yang menjadi identitas kebanggaan Nahdlatul Ulama.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftachul Akhyar menyampaikan pesan yang menyentuh hati para hadirin. Alih-alih menyinggung dinamika politik praktis, beliau justru mengajak seluruh jajaran pengurus untuk kembali menata niat dalam berkhidmat.
”Yang kami harapkan ada setitik debu keberkahan yang bisa kita bawa pulang, yang menjadikan semua pengurus, baik Tanfidziyah maupun Syuriyah, memperoleh khusnul khotimah dalam berkhidmat di NU,” ujar Kiai Miftach penuh takzim.
Senada dengan Rais Aam, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menekankan agar forum ini menghasilkan keputusan-keputusan yang strategis dan membawa kemaslahatan nyata. Gus Yahya berharap seluruh proses pengambilan keputusan berjalan harmonis tanpa menyisakan persoalan di kemudian hari.
”Semoga Munas-Konbes NU 2026 membuahkan hasil yang manfaat, tidak menimbulkan masalah bagi siapa pun. Hasil yang sungguh akan memberikan harapan tentang masa depan untuk jam’iyah yang kita cintai ini,” tutur Gus Yahya.
Gelaran akbar di tanah Kediri ini dihadiri oleh deretan tokoh nasional dan ulama kharismatik, di antaranya KH Mustofa Bisri, KH Said Agil Siroj, Mantan Wapres KH Ma’ruf Amin, KH Huda Jazuli, KH Anwar Mansur, Alissa Wahid, hingga Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Bagi Pengasuh Utama Pesantren Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli, kehadiran para tokoh dan nahdliyin dari seluruh Indonesia di pesantrennya menjadi kebahagiaan tersendiri. Di usia senjanya, ia bersyukur melihat pondoknya menjadi pusat syiar dan silaturahmi nasional.
”Mugi-mugi (mudah-mudahan) ingkang saestu (yang baik) untuk perkembangan NU, sesuai dengan slogan yang selalu dibunyikan,” ungkap Kiai Nurul Huda hangat.


