Kasus Penganiayaan di Jogoroto Jombang, Korban Meninggal Diduga Dipukuli dan Dibenturkan Tembok
JOMBANG, FaktualNews.co-Fakta baru terus terungkap dalam kasus kematian Khoiriah alias Puji, perempuan penyandang disabilitas yang ditemukan meninggal dunia di kamar mandi sebuah rumah kos di Dusun/Desa/Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
Selain proses ekshumasi yang dilakukan kepolisian untuk kepentingan otopsi, keterangan Ketua RT setempat mengungkap dugaan penyiksaan yang dialami korban sebelum akhirnya meninggal dunia.
Ketua RT 03 RW 07 Desa Jogoroto, mengatakan bahwa berdasarkan informasi dan temuan warga, korban diduga mengalami kekerasan fisik di sejumlah bagian tubuhnya.
“Ada luka di pelipis, telinga sampai keluar darah, punggung, leher bagian depan seperti bekas cekikan, pergelangan tangan, sama kaki,” ujar Ketua RT yang enggan disebut namanya kepada wartawan.
Menurutnya, luka-luka tersebut diduga akibat penganiayaan yang dilakukan menggunakan beberapa benda. Korban disebut dipukul menggunakan gagang sapu dan alat penumbuk bumbu dapur (ulek-ulek).
“Semua dipukuli soalnya. Pakai gagang sapu, pakai ulek-ulek. Lebam-lebam semua,” katanya.
Tak hanya itu, korban juga diduga mengalami kekerasan dengan cara dibenturkan ke tembok. Kondisi tersebut diketahui dari keterangan warga sekitar yang melihat langsung kejadian dari area sekitar kamar kos.
“Sama dibenturkan ke tembok. Cukup banyak lukanya,” imbuhnya.
Ketua RT itu menjelaskan, sejumlah tetangga sebenarnya mengetahui adanya keributan dari dalam kamar kos. Bahkan beberapa saksi disebut bisa melihat langsung kejadian karena pintu kamar kos terbuat dari material kaca.
“Kalau saya tidak dengar langsung. Yang melihat itu tetangga sebelah. Soalnya pintunya kaca, jadi kelihatan,” tuturnya.
Korban diketahui tinggal bersama kakak kandungnya yang kini telah diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Selama tinggal di lingkungan Ketua RT setempat mengaku tidak pernah mengetahui adanya pertengkaran besar antara keduanya. Namun korban yang merupakan penyandang disabilitas disebut kerap dimarahi karena sulit dikendalikan.
“Kalau pertengkaran sebelumnya tidak pernah terdengar. Tapi memang merawat orang disabilitas kan tidak mudah, kadang sering dimarahi,” katanya.
Dari informasi yang diterimanya, pemicu dugaan penganiayaan itu diduga berawal dari persoalan sepele, yakni korban disebut menghabiskan bumbu pecel milik kakaknya.
“Katanya karena menghabiskan bumbu pecel. Kakaknya marah lalu memukul korban. Bahkan sempat ditinggal kerja, kemudian pulang lagi dan memukul korban lagi,” ungkapnya.
Lebih mengejutkan, korban disebut sempat berusaha menyelamatkan diri dengan keluar melalui jendela kamar kos. Namun upaya itu gagal karena korban kembali ditarik masuk ke dalam kamar.
“Sempat mau kabur lewat jendela, tapi ditarik lagi masuk. Terus dipukuli lagi,” ujarnya.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 11.00 hingga 11.30 WIB, tetangga diminta membantu mengangkat tubuh korban yang berada di kamar mandi.
Saat itu, keluarga menyampaikan bahwa korban hanya dalam kondisi pingsan. Namun warga mulai curiga karena melihat sejumlah luka pada tubuh korban.
“Tetangga diminta membantu mengangkat korban dari kamar mandi. Katanya cuma semaput atau pingsan, tapi kondisinya sudah tidak bernyawa,” katanya lagi.
Ia juga mengungkapkan bahwa setelah kejadian, pihak keluarga sempat memilih membawa jenazah pulang untuk dimakamkan tanpa terlebih dahulu melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian.
“Saya sempat menyarankan supaya dibawa ke rumah sakit. Tapi keluarga bilang cukup diselesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya.
Kini kasus tersebut telah ditangani Polres Jombang. Polisi juga telah melakukan pembongkaran makam korban di Dusun Pajaran, Desa/Kecamatan Peterongan, untuk kepentingan autopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Sementara itu, kakak kandung korban telah diamankan petugas untuk dimintai keterangan dalam proses penyelidikan yang masih berlangsung.


