SITUBONDO, FaktualNews.co – Kehidupan keluarga Slamet (52) kini berubah drastis. Setelah pria paruh baya tersebut ditahan di Mapolres Situbondo akibat kasus penganiayaan terhadap seorang tukang becak bernama Abdul Majid (62), sang istri harus memutar otak demi menghidupi ketiga anaknya.

Ningrum Suliyati (49), istri Slamet, mengaku kini terpaksa bekerja sebagai buruh pengupas bawang merah di rumah tetangganya. Pekerjaan kasar ini ia lakoni demi upah yang tak seberapa, paling besar hanya Rp30 ribu per hari.

“Dengan upah Rp30 ribu, saya harus mencukupi makan dua kali sehari untuk saya dan tiga anak. Itu pun lauknya hanya tempe goreng dan sambal,” ujar Ningrum saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, Situbondo, Selasa (28/7/2026).

Sejak suaminya mendekam di sel tahanan pada Selasa (14/7/2026) lalu, Ningrum langsung bergerak mencari pekerjaan. Langkah ini juga diikuti oleh anak pertamanya yang sadar akan kondisi ekonomi keluarga yang mendadak lumpuh.

“Alhamdulillah, anak pertama saya mulai hari ini juga sudah bekerja sebagai pelayan di salah satu toko di Kota Situbondo,” kata Ningrum dengan nada lirih.

Kondisi ekonomi keluarga ini sejatinya sudah memprihatinkan sejak lama. Ningrum menceritakan bahwa sejak menikah dengan Slamet sekitar 21 tahun lalu, mereka tinggal di rumah kontrakan sempit berukuran 5×4 meter. Di dalam rumah tersebut hampir tidak ada perabot rumah tangga sama sekali, seperti kursi maupun tempat tidur. Setiap kali ada tamu yang datang, mereka terpaksa menggelar tikar di teras rumah.

“Bahkan, rumah kontrakan yang kami tempati puluhan tahun ini tidak dilengkapi kamar mandi. Jadi, setiap hari saya dan anak-anak terpaksa mandi di sungai yang berada tidak jauh dari rumah,” tambahnya.

Mengingat posisi Slamet yang merupakan tulang punggung tunggal, Ningrum sangat berharap petugas Polres Situbondo dapat memberikan keringanan atau tidak menghukum berat suaminya. Ia memikirkan masa depan anak bungsunya yang masih berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas V SD.

“Anak bungsu kami masih butuh biaya besar untuk sekolah. Sementara dua kakaknya sudah lulus; yang pertama baru saja bekerja dan anak kedua masih terus mencari pekerjaan,” jelas Ningrum.

Dengan pendapatan dari mengupas bawang yang sangat minim, Ningrum kerap kali dirundung kesedihan karena tidak bisa memberikan uang saku sekolah bagi si bungsu.

“Biasanya saya usahakan memberi uang saku Rp5 ribu sehari untuk anak bungsu saya. Tapi kalau uangnya benar-benar tidak ada, terpaksa dia sekolah tanpa uang saku,” pungkasnya.

Sebelumnya Satreskrim Polres Situbondo menangkap Slamet, pada Selasa (14/7/2026).
Pria yang akrab disapa Obeng ini diringkus karena diduga menganiaya seorang tukang becak bernama Abdul Majid (62) menggunakan kunci Inggris berukuran besar hingga kritis. Saat kejadian, kondisi terduga pelaku diduga sedang mabuk.

Akibat penganiayaan brutal tersebut, korban yang merupakan warga Jalan Arguporo, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, harus menjalani rawat inap di RSU dr. Abdoer Rahem Situbondo. Korban mengalami luka bocor di kepala serta luka lebam di sekujur tubuh dan tangan akibat dipukul berulang kali.