Diduga Menu Monoton dan Sayur Basi, SPPG Yayasan Ma’hadul Muta’allimin Jombang Dikeluhkan Sekolah Penerima MBG
JOMBANG, FaktualNews.co – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ma’hadul Muta’allimin di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, mendapat keluhan dari sejumlah sekolah penerima manfaat.
Keluhan tersebut disampaikan oleh salah seorang Penanggung Jawab (Person in Charge/PIC) MBG di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Diwek yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menyebut menerima sejumlah laporan dari siswa maupun guru piket terkait kualitas makanan yang dibagikan.
Menurutnya, dalam kurun waktu sekitar dua pekan terakhir, menu lauk yang disediakan dinilai kurang bervariasi karena didominasi olahan ayam hampir setiap hari. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa enggan mengambil maupun menghabiskan makanan yang diberikan.
“Anak-anak mulai komplain karena selama dua minggu lauknya ayam terus. Banyak yang tidak mau mengambil ompreng, bahkan ada yang hanya mengambil buahnya saja,” ujarnya saat ditemui, Rabu (22/7/2026).
Ia mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak penyedia. Namun, hingga kini belum terlihat adanya evaluasi maupun perubahan menu yang signifikan.
Keluhan semakin mencuat setelah distribusi makanan pada Selasa (21/7/2026), ketika menu tumis sayur yang diterima sekolah diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Sekitar pukul 09.00 WIB, saat makanan dibuka untuk dibagikan kepada siswa, guru piket disebut mencium aroma tidak sedap dari menu sayuran tersebut.
“Semuanya diduga basi. Begitu dibuka, baunya sudah menyengat dan tidak layak dimakan,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, pihak sekolah memutuskan menghentikan pembagian makanan dan meminta siswa tidak mengonsumsi menu tersebut sebagai langkah pencegahan.
“Kami langsung menghentikan pembagian. Tidak boleh ada yang makan karena baunya sudah tidak karuan. Kondisinya juga terlihat seperti sudah terlalu lama dimasak,” katanya.
Ia menegaskan, keputusan itu diambil untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan kesehatan terhadap siswa.
“Saya sampai menyampaikan, kalau nanti ada anak yang keracunan atau sakit perut, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya.
Menurutnya, pihak sekolah berharap pengelola SPPG memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, ia mengaku belum menerima penyampaian resmi dari pihak pengelola.
Selain persoalan menu makanan, sekolah juga mempertanyakan penghentian distribusi susu dalam program MBG.
Ia mengatakan, sebelumnya susu rutin diberikan setiap hari Kamis. Namun sejak memasuki semester baru, distribusi susu disebut berhenti sekitar dua pekan tanpa adanya surat pemberitahuan resmi.
“Anak-anak bertanya kenapa sekarang tidak ada susu. Kami juga bingung menjawab karena hanya mendapat informasi melalui WhatsApp,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima sekolah, penghentian distribusi susu disebut merupakan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN). Namun pihak sekolah mengaku belum menerima surat atau pemberitahuan resmi sebagai dasar penyampaian kepada siswa maupun wali murid.
Narasumber juga menyebut jumlah makanan yang tidak dikonsumsi siswa cukup tinggi.
Pada hari ketika ditemukan dugaan makanan basi, diperkirakan hampir 80 persen porsi makanan tidak dikonsumsi. Sementara pada hari biasa, sekitar separuh siswa disebut tidak menghabiskan makanan karena merasa menu kurang bervariasi dan cita rasanya kurang sesuai.
“Anak-anak sering bilang makanannya tidak ada rasanya dan kurang enak. Menunya juga ayam, wortel, ayam, wortel hampir setiap hari,” tuturnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari sejumlah rekan di sekolah lain, terdapat SPPG berbeda yang dinilai mampu menyediakan menu lebih beragam.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala SPPG Yayasan Ma’hadul Muta’allimin, Hakul, telah dilakukan melalui sambungan telepon maupun dengan mendatangi langsung lokasi SPPG di Desa Puton, Kecamatan Diwek.
Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait belum memberikan keterangan.
Saat ditemui di lokasi, salah seorang penjaga SPPG menyampaikan bahwa Hakul sedang mengikuti rapat daring melalui Zoom bersama Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga belum dapat ditemui.
“Maaf, Pak Hakul masih rapat Zoom dengan BGN, belum bisa ditemui. Kemungkinan besok,” ujar penjaga SPPG. (KabarJombang.com)


