7 Ribu Anak di Tulungagung Tercatat Tidak Bersekolah, Mayoritas Drop out
TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Ribuan warga di Tulungagung tercatat tidak bersekolah. Data itu bisa diketahui dalam
Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan. Saat emerintah terus berupaya untuk mengembalikan anak-anak itu agar dapat kembali mengenyam bangku pendidikan.
Kasi Kelembagaan Bidang SD, Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah mengatakan, jumlah anak tidak sekolah itu mencapai sebanyak 7.100 orang. Rinciannya, sebanyak 5.544 orang masuk kategori Drop Out (DO) atau putus sekolah, sisanya sebanyak 1.556 orang masuk kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB).
“Namun tidak semua data tersebut merupakan usia anak sekolah, karena rupanya terdapat warga yang berusia di atas 25 tahun yang ikut terdata di dalamnya,” kata Rifka Zuyun Umadah, Kamis (25/6/2026).
Disdik Tulungagung telah menjalankan program pengentasan anak tidak sekolah sejak beberapa tahun terakhir. Program ini dijalankan melalui kolaborasi bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) dan Dinas Sosial (Dinsos).
Mekanisme penanganan dilakukan secara persuasif melalui verifikasi, konfirmasi, hingga mendatangi langsung tempat tinggal satu per satu. Apabila anak itu dinilai masih memungkinkan untuk kembali ke sekolah formal, pihaknya memberikan fasilitas yang sesuai.
“Tetapi, kalau secara usia tidak masuk pada sekolah formal kami masukkan pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau pendidikan non formal,” ungkapnya.
Selama ini, sudah ada 100 lebih Anak Tidak Sekolah di Tulungagung yang berhasil kembali mengakses pendidikan layak. Mereka merupakan anak usia sekolah yang kembali mengakses pendidikan pada jenjang formal di tingkat SD, SMP maupun SMA.
Pihaknya juga berhasil mengembalikan sebagian besar anak tidak sekolah itu untuk mengakses pendidikan non formal. Secara umum, tidak ada kesulitan saat mengajak anak-anak untuk kembali bersekolah, asalkan masih semangat untuk belajar.
“Namun selama di lapangan, kami menemui anak usia sekolah setingkat SMA yang menolak kembali bersekolah karena sudah merasa nyaman bekerja, bahkan ada yang merasa sudah cukup dengan tingkat pendidikan yang mereka miliki,” pungkasnya.


