SITUBONDO, FaktualNews.co- Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menghadiri acara penguatan kapasitas kelembagaan klaster pangan yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) Jember, berkolaborasi dengan Petani Milenial Situbondo.

Dalam kesemoatan tersebut, Bupati Yusuf Rio menegaskan bahwa kultur masyarakat Situbondo sangat erat dengan dunia agraris. Meski memiliki garis pantai yang panjang, penopang utama pertumbuhan ekonomi di wilayah ini tetap berada pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Fokus kita ada di tiga sektor itu. Saya meyakini dengan mendorong dan menebalkan sektor pertanian, kita bisa menggenjot perekonomian sekaligus meningkatkan kapasitas produksi di Kabupaten Situbondo,” ujar Bupati Rio.

Mas Rio  mengungkapkan rasa optimisnya, setelah menerima laporan hasil ubinan yang melompat signifikan dari rata-rata 7,5 ton menjadi 9,3 ton per hektar. Menurutnya, kapasitas produksi pangan bisa ditingkatkan secara optimal tanpa harus menambah luasan lahan pertanian.

Untuk mencapai target besar tersebut, Bupati Rio meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan memberikan ruang bagi generasi muda.

Petani milenial diharapkan mampu membawa sentuhan modernisasi, teknologi, dan teknik pertanian baru guna mengejar target produksi gabah dari 321.000 ton menjadi 500.000 ton pada tahun 2026.

Terkait kendala di lapangan seperti hama tikus, Bupati menyerahkan solusi teknis kepada para ahli dan berkomitmen mendukung penuh dari sisi kebijakan anggaran.

“Wilayah saya adalah kebijakan. Apa yang dibutuhkan akan kami siapkan, pokoknya target 500.000 ton itu bisa dicapai tahun ini,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret jangka panjang, Pemkab Situbondo berencana meluncurkan program Akademi Tani Muda dan Akademi Ternak Muda pasca perubahan anggaran tahun 2026.

“Program ini akan dipusatkan di Desa Gelung yang memiliki fasilitas integrated farming (pertanian terpadu) lengkap dengan area tambak, sawah, dan peternakan,”pungkasnya.

Kepala BI Jember, Iqbal Reza Nugraha, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif penyelenggaraan acara ini. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Meningkatkan Produktivitas Padi, Menguatkan Literasi Keuangan, Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan.”

“Tema ini sangat relevan dengan kebutuhan riil petani di lapangan saat ini,”katanya.

Meski tren produksi positif, tantangan ke depan bergeser pada keberlanjutan. BI Jember menekankan pentingnya penguatan kapasitas, efisiensi usaha, dan literasi keuangan bagi para petani.

“Keseimbangan antara kemampuan memproduksi dan mengelola keuangan menjadi kunci agar usaha tani lebih tangguh serta berdaya saing,”bebernya.

Melalui forum ini, para petani milenial diharapkan mampu menekan biaya produksi secara terukur, menaikkan hasil panen berkala, dan memanfaatkan modal secara bijak.

“Sinergi ini ditargetkan tidak berhenti sebagai diskusi, melainkan berlanjut pada implementasi nyata di sawah demi kesejahteraan petani Situbondo,”ujarnya.

Sementara itu, Ketua Petani Milenial Situbondo, Miskiyanto, mengungkapkan bahwa saat ini antusiasme anak muda terhadap dunia pertanian menunjukkan tren positif.

“Kebanyakan ada yang memang sudah bertani, dan ada juga yang baru mau memulai bertani,” ujar Miskiyanto.

Menurutnya, mayoritas petani milenial di Situbondo saat ini berfokus pada sektor tanaman pangan, khususnya komoditas padi. Langkah ini diambil demi menyukseskan program strategis pemerintah daerah.

Meski semangat tergolong tinggi, sektor pertanian di Situbondo bukan tanpa hambatan. Miskiyanto mengakui bahwa para petani di lapangan saat ini dihadapkan pada persoalan klasik yang cukup rumit.

“Kalau kendala, masalahnya cukup kompleks. Salah satu yang paling berat dan sedang terjadi saat ini adalah serangan hama tikus,” ungkapnya.