Nelayan Lamongan Bersiap Sambut Panen Rajungan, Harapan Baru di Musim Kemarau
LAMONGAN, FaktualNews.co-Menyambut datangnya musim kemarau, para nelayan di kawasan perairan Lamongan bersiap untuk menghadapi puncak musim tangkap rajungan yang diprediksi akan segera tiba.
Peralihan angin dan arus laut menuju musim kemarau membawa harapan bagi nelayan, karena diperkirakan akan meningkatkan hasil tangkapan rajungan, komoditas unggulan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama bagi mereka.
Namun, dalam sebulan terakhir, hasil tangkapan rajungan justru menunjukkan penurunan. Ketua Forkom Nelayan Rajungan Simpul Lamongan, Muchlisin Amar, mengatakan bahwa tangkapan rajungan mengalami penurunan sebelum musim puncak kemarau tiba.
“Selama sebulan terakhir, hasil tangkapan rajungan menurun. Nelayan yang melaut hingga 30 mil hanya bisa memperoleh sekitar 20 hingga 25 kilogram per hari, sedangkan nelayan yang lebih dekat, sekitar 10-17 mil, hanya mendapat sekitar 10 kilogram per hari,” jelas Muchlisin pada Kamis (30/4/2026).
Meski demikian, para nelayan di Lamongan optimistis bahwa hasil tangkapan akan meningkat dalam beberapa minggu ke depan, seiring dengan perubahan cuaca yang membawa angin timur sebagai pertanda datangnya musim kemarau.
Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, musim kemarau sering kali membawa keberuntungan dengan meningkatnya jumlah rajungan yang lebih mudah ditangkap. “Pada bulan Mei nanti, angin timur biasanya mulai berhembus, dan hasil tangkapan rajungan akan meningkat. Kami menantikan hal itu,” ujar Muchlisin.
Kenaikan harga rajungan menjadi berita baik bagi para nelayan. Tahun ini, harga rajungan mengalami lonjakan yang cukup signifikan, dari sekitar Rp90 ribu per kilogram tahun lalu, kini harga mencapai Rp135 ribu per kilogram, naik sekitar 40 persen.
“Ini menjadi peluang besar bagi nelayan. Dengan harga yang tinggi, diharapkan hasil tangkapan rajungan juga meningkat, dan kami bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar,” tambah Muchlisin.
Kenaikan harga rajungan ini memberi angin segar bagi nelayan Lamongan, yang selama beberapa waktu terakhir sempat menghadapi hasil tangkapan yang kurang memadai.
“Dengan peningkatan tangkapan dan harga jual yang tinggi, banyak yang berharap musim kemarau tahun ini dapat memberikan dampak positif bagi pendapatan para nelayan,” ungkapnya.
Para nelayan Lamongan kini menaruh harapan besar pada musim kemarau yang akan datang. Setelah menghadapi periode tangkapan yang menurun, mereka berharap cuaca yang lebih bersahabat dapat membawa hasil yang melimpah,
“Cuaca yang mendukung, kenaikan harga, dan potensi tangkapan yang beragam, nelayan optimistis musim kemarau kali ini akan membawa keberuntungan yang signifikan,” harap Muhlisin.
Di luar rajungan, harga ikan laut lainnya di Lamongan cenderung stabil. Ir Sudarlin, pelaku usaha perikanan setempat, mengungkapkan bahwa harga produk ikan olahan seperti kurisi, swangi, dan kapasan mengalami kenaikan sekitar 7 hingga 10 persen. Namun, harga ikan premium seperti kakap merah dan kerapu tetap stabil tanpa lonjakan berarti.
“Untuk ikan premium dan ikan segar lainnya, harganya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Kenaikan harga lebih terlihat pada rajungan yang saat ini banyak dicari oleh pasar,” ujar Sudarlin.
Musim kemarau juga membuka peluang bagi nelayan untuk menangkap lebih banyak jenis hasil laut. Tidak hanya rajungan, kepiting dan berbagai ikan laut lainnya cenderung melimpah pada musim ini. Menggunakan alat tangkap yang sama, nelayan bisa mendapatkan hasil yang lebih beragam dalam sekali melaut.
“Di musim kemarau, hasil tangkapan bisa lebih bervariasi. Tidak hanya rajungan, tetapi juga kepiting dan ikan laut lainnya bisa diperoleh. Hal ini tentu membantu meningkatkan pendapatan nelayan,” ungkap Sudarlin.
Dengan berbagai persiapan yang sudah dilakukan sejak sekarang, para nelayan di Lamongan siap memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk meraih hasil yang lebih baik.
“Semoga di musim kemarau ini bisa meningkatkan kesejahteraan mereka, sekaligus memberi dampak positif bagi sektor perikanan di Lamongan,” pungkasnya.
