KEDIRI, FaktualNews.co – Kementerian Haji dan Umrah memastikan penambahan porsi petugas haji perempuan pada tahun depan. Langkah ini diambil guna menjawab tingginya komposisi jemaah haji perempuan asal Indonesia yang mencapai 55 persen pada 2026 sekaligus mewujudkan layanan haji yang ramah perempuan.

​Kepastian tersebut disampaikan perwakilan Kementerian Haji dan Umrah RI, Ikhsan Kamaruzzaman, dalam sosialisasi pelayanan haji bersama anggota Komisi VIII DPR RI An’im Falachuddin Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (30/7/2026).

​”Kementerian Haji dan Umrah RI berkomitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan jemaah, khususnya jemaah perempuan. Di tahun 2026 ini, jemaah haji perempuan komposisinya mencapai 55 persen dari total jemaah Indonesia. Dan petugas kami saat ini sudah 33 persen. Untuk tahun depan petugas haji perempuan akan ditambah lagi porsinya, guna mewujudkan haji ramah perempuan,” K
kata Ikhsan Kamaruzzaman, perwakilan Kementerian Haji dan Umrah RI saat sosialisasi di Ponpes Lirboyo Kota Kediri, Kamis (30/7/2026).

​Menanggapi rencana tersebut, anggota Komisi VIII DPR RI, An’im Falachuddin Mahrus (Gus An’im), berharap penguatan layanan tidak hanya berfokus pada jumlah petugas, tetapi juga menyentuh aspek materi bimbingan manasik keagamaan.

​”Kami berharap, materi Fikih Nisa (Fikih Perempuan) akan menjadi kurikulum wajib dalam bimbingan manasik dengan melibatkan para ibu Nyai dan pembimbing perempuan yang kompeten,” ujarnya.

​Selain itu, Gus An’im menekankan pentingnya pengetatan syarat istitha’ah kesehatan agar jemaah yang berangkat benar-benar siap secara fisik. Evaluasi ini berkaca dari angka kematian jemaah pada musim haji sebelumnya.

​”Pada haji tahun lalu, angka jemaah wafat tercatat 316 orang. Jumlah ini memang turun dari periode sebelumnya yang mencapai sekitar 400 orang, namun tetap menjadi catatan penting,” tambah Gus An’im.

​Pengetatan seleksi kesehatan ini juga bertujuan menekan keluhan dari Pemerintah Arab Saudi terkait jemaah berisiko tinggi, khususnya lansia dan jemaah yang sedang sakit.

​Acara sosialisasi yang dihadiri sekitar 300 peserta dari kalangan santri dan masyarakat umum ini diharapkan mampu menjadi landasan agar penyelenggaraan Haji 2027 berjalan semakin aman, nyaman, dan berkeadilan.