Singgung Wartawan dengan Istilah Londo Ireng, IJTI Pantura Desak Presiden Klarifikasi
LAMONGAN, FaktualNews.co – Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut istilah Londo Ireng saat menyinggung wartawan, jurnalis, pengamat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menuai sorotan dari kalangan insan pers.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua IJTI Pantura Raya, Mohammad Mahrus, menyayangkan penggunaan istilah yang dikaitkan dengan profesi jurnalis. Menurutnya, pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang memiliki fungsi kontrol sosial dan menjalankan tugas berdasarkan Undang-Undang Pers.
“Jika Presiden memiliki keberatan terhadap suatu karya jurnalistik, mekanisme yang tepat adalah menyampaikan pengaduan melalui Dewan Pers. Itu akan menjadi teladan yang baik dalam menjaga ekosistem pers yang sehat dan berkualitas,” kata Mahrus, Sabtu (25/7/2026).
Mahrus berharap Presiden dapat memberikan klarifikasi atau meralat ucapannya agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh profesi jurnalis disamakan dengan istilah yang memiliki konotasi negatif. Insan pers dan pemerintah sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan masyarakat memperoleh informasi yang objektif, akurat, dan berkualitas demi memperkuat demokrasi.
Dalam kesempatan itu, Mahrus juga meluruskan makna historis istilah Londo Ireng. Menurutnya, sebutan tersebut pada masa kolonial Belanda merujuk kepada penduduk pribumi yang menjadi anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
“Sejarah mencatat bahwa Londo Ireng adalah julukan bagi pasukan KNIL yang berasal dari penduduk pribumi dengan warna kulit gelap, sehingga dibedakan dari tentara Belanda,” jelasnya.
Ia menerangkan, KNIL dibentuk pemerintah kolonial Belanda dengan merekrut penduduk lokal serta prajurit dari wilayah lain, termasuk Afrika dan Indo-Belanda, karena aturan saat itu tidak memperbolehkan wajib militer Belanda ditempatkan di wilayah jajahan.
Mahrus menambahkan, sejumlah tokoh militer Indonesia pernah mengawali karier di KNIL, di antaranya Oerip Soemohardjo, Abdul Haris Nasution, Gatot Soebroto dan Soeharto. Sementara dari PETA (Pembela Tanah Air) yang dibentuk Jepang lahir tokoh-tokoh seperti Jenderal Soedirman, Ahmad Yani, Supriyadi, dan Basuki Rahmat.
“Setelah Proklamasi 1945, dalam proses penentuan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Soedirman akhirnya terpilih melalui pemungutan suara mengungguli Oerip Soemohardjo.
Mahrus menilai pemahaman terhadap konteks sejarah penting agar istilah yang memiliki beban historis tidak digunakan secara sembarangan, terlebih ketika ditujukan kepada profesi yang memiliki peran strategis dalam kehidupan demokrasi.
Pernyataan Presiden Prabowo itu sendiri disampaikan saat pidato dalam agenda puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis kemarin. Prabowo menyatakan bahwa sosok yang pada masa kolonial disebut sebagai Londo Ireng masih ada hingga kini.
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan Wartawan, jurnalis apa itu, yang gaji lo siapa, yang bayar listrik mu siapa. Yang bayar handphonemu siapa?,” ujar Prabowo.
Presiden juga menegaskan bahwa sejak era penjajahan telah ada warga Indonesia yang dinilainya tidak patriotik dan lebih memilih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Selain itu, ia menyindir adanya media yang dinilai tidak memberitakan berbagai capaian pemerintah, termasuk renovasi gedung sekolah, meski tidak menyebut nama media tertentu.


