TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung ke dalam Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur menggelar aksi bersih-bersih di Pantai Sidem di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Hasilnya, 100 kilogram sampah berhasil dikumpulkan hanya dalam waktu 60 menit.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim, Lucky Wahyu Wardana mengatakan, aksi bersih-bersih pantai ini dilakukan untuk edukasi masyarakat. Utamanya untuk menekan laju penggunaan plastik sekali pakai yang produksinya dinilai sudah melebihi dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

“Kegiatan bersih-bersih pantai ini juga dilakukan untuk peringatan di bulan Juli yang secara internasional sebagai bulan bebas plastik selama satu bulan penuh untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai,” kata Lucky Wahyu Wardana, Minggu (19/7/2026).

Ratusan kilogram sampah itu kemudian dipilah dan diidentifikasi berdasarkan jenisnya, mulai dari plastik bening, saset, karet, kaca, hingga limbah B3.

Pantai Sidem dipilih karena pantai ini merupakan muara dari sungai besar yang melintasi tiga daerah, yaitu Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek. Atas dasar itu, kegiatan bersih-bersih pantai digelar di Pantai Sidem dibanding Pantai Gemah.

“Sampah di pantai ini bukan hanya dari pengunjung yang membuang sembarangan. Asumsi kami, sampah ini mengalir dari sungai akibat kebiasaan masyarakat di kota yang membuang sampah ke aliran sungai,” ungkapnya.

Selain membersihkan pantai, para relawan juga melakukan brand audit dengan mencatat merek-merek produk apa saja yang mencemari Pantai Sidem. Temuan ini nantinya akan disusun dan dikirimkan kepada para produsen sampah serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung.

Sesuai regulasi, tanggung jawab pengelolaan limbah plastik tidak hanya kewenangan pemerintah ataupun masyarakat, melainkan juga pihak produsen. Mengingat produsen punya kewajiban untuk mengurangi sampah dari produk kemasan yang mereka buat.

“Sayangnya, sejauh ini belum ada timbal balik atau komitmen nyata dari pihak produsen. Bahkan sering kali permasalahan sampah ini berakhir di mediasi tanpa jawaban pasti,” pungkasnya.