SITUBONDO, FaktualNews.co-Untuk mendalami kasus pengeroyokan, yang mengakibatkan korban Mahmud  Nur Huda (17), siswa kelas 12 salah satu SMA di Situbondo koma, dan menjalani perawatan secara intensif di RS dr Soebandi Jember.

Penyidik Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Situbondo, sudah memanggil dan meminta keterangan tiga orang saksi. Bahkan, penyidik juga memanggil terlapor RZ, namun RZ tidak memenuhi panggilan penyidik.

Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan mengatakan, diakui  pihaknya masih belum berhasil mengungkap motif, kasus pengeroyokan  terhadap korban Mahmud Nur Huda.

“Selain pelaku dan korban sama-sama dibawah umur. Namun, penyidik tidak dapat meminta keterangan korban. Mengingat  korban masih menjalani perawatan di RS dr Soebandi Jember. Sementara terlapor RZ tidak memenuhi panggilan,”ujar AKP Agung Hartawan, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, berdasarkan keterangan tiga orang saksi kepada penyidik, korban M Nur Huda dan terlapor RZ asal Kecamatan Mangaran, keduanya di ketahui satu sekolah di salah satu SMA  di Kota Situbondo, korban M Nur Huda  kelas 12 sedangkan terlapor RZ kelas 11.

“Kepada penyidik tiga orang saksi mengatakan, awalnya yang nantang berkelahi korban kepada teerlapor, sebelum akhirnya keduanya melakukan duel di kuburan china di lingkungan Cappore, Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji,”beber AKP Agung Hartawan, Jumat (13/2/2026).

AKP Agung Hartawan  menjelaskan, berdasarkan keterangan tiga orang saksi, sebetulnya duel antara korban dan terlapor RZ terjadi dua kali, pertama duel di gang sebelah  barat sekolah tempat keduanya bersekolah.

“Sedangkan kedua kalinya berduel di kuburan China di lingkungan Cappore, Kelurahan Ardirejo, dalam dua kali duel korban selalu kalah. Yang pasti, berdasarkan keterangan tiga orang saksi tidak kasus pengeroyokan, namun keduanya duel satu lawan satu,”katanya.

Lebih jauh AKP Agung menambahkan, karena pada panggilan pertama terlapor RZ tidak memenuhi panggilan penyidik, pihaknya akan memanggil RZ untuk diminta keterangannya.

“Kami memanggil kembali terlapor RZ, mengingat pada panggilan pertama RZ tidak memenuhi panggilan penyidik PPA tanpa keterangan,”pungkasnya.

Diperoleh informasi, berdasarkan keterangan pihak sekolah tempat korban Mahmud Nur Huda (17) dan terlapor RZ (17) bersekolah mengungkapkan perbedaan prilaku antara keduanya.

Korban dikenal sebagai siswa yang terkesan  urakan dan sok jagoan, sedangkan terlapor RZ dikenal sebagai siswa yang pendiam.

“Kami hanya melihat prilaku keduanya setiap hari di sekolah, korban M Nur Huda  terkesan urakan. Sedangkan terlapor RZ pendiam,”ujar salah seorang guru tempat keduanya bersekolah.

Sementara itu, Nurul, salah seorang warga lingkungan Cappore, Kelurahan Ardirejo mengatakan, diakui pada 7 Februari 2026 lalu, ada puluhan siswa berseragam masuk ke wilayah makam. Namun, pihaknya tidak mengetahui kegiatan yang dilakukan para siswa tersebut.

“Kondisi pemakaman China sepi dan agak jauh dari pemukiman warga. Saya hanya tahu puluhan siswa masuk ke pamakaman. Itupun saya lihat saat melintas di pintu masuk makam, untuk aktivitas puluhan siswa saya tidak tahu,”ujar Nurul.