Danau Tunjung Jember Jadi Mitigasi Bencana
JEMBER, FaktualNews.co – Menanggapi temuan retakan tanah sepanjang kurang lebih 200-300 meter, dengan lebar 20-30 cm, dan kedalaman 50-60 cm di sekitar Danau Tunjung, wilayah Selatan Lereng Pegunungan Argopuro, Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember, berpotensi terjadi bencana alam. Tidak hanya itu lokasi Danau Tunjung yang berada di ketinggian 1.800 mdpl, dikuatirkan ambrol. Bakorwil V Pemprov Jatim Jember sendiri gerak cepat dengan segera menginisiasi dan menggelar rapat Koordinasi Mitigasi Bencana.
Dalam rapat yang dihadiri oleh perwakilan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Jember, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Jember, Kepala UPT PSDA Bondoyudo Baru Lumajang, Administratur/KKPH Perum Perhutani Jember, Kepala BKSDA Wilayah III Jember, Dosen FISIP UNEJ (Pemerhati Kebencanaan), PMI Jember, Tagana Kabupaten Jember, dan sejumlah relawan bencana, menyepakati untuk segera melakukan upaya mitigasi bencana.
Rapat yang digelar di Ruang Meeting Room EJSC Kantor Bakorwil V Jember Jalan Kalimantan nomor 42, Kecamatan Sumbersari, Jember ini membahas tindak lanjut juga memastikan temuan retakan tanah tersebut sebagai upaya penanganan juga meminimalisir dampak jika terjadi bencana. “Jadi dari hasil temuan itu, kita sepakat melakukan pengecekan lanjutan. Nantinya pengecekan itu akan dilakukan bersama-sama dengan pihak stakeholder terkait,” ucap Kabid Pemerintahan Bakorwil V Jatim Chairul Anwar.
Khoirul mengatakan, ada upaya mitigasi bencana ini karena pihaknya tidak ingin kejadian banjir bandang pada tahun 2006 lalu terulang kembali. “Di lokasi yang hampir sama, posisi Danau Tunjung ini kan di atasnya kejadian tahun 2006 lalu. Kita ingat di tahun 2006, yang kurang lebih menelan 80 korban, hampir 7.605 masyarakat yang perlu dievakuasi, melibatkan 11 desa, di Desa Panti. Itu jangan sampai terulang kembali,” tegasnya. Guna upaya mitigasi bencana, pria yang akrab disapa Pak Choi ini melakukan identifikasi dan assessment di lokasi.
“Bersama dengan banyak instansi yang terlibat dan memiliki kompetensi di sana. Saat ini ada 12 unsur yang terlibat dalam rapat. Tapi juga dari rapat, kajian dari teman-teman BKSDA tanggal 15 Januari 2025 kemarin, tidak menginformasikan adanya retakan dan debit air yang ada, tidak sampai 90 miliar liter,” jelasnya. Dalam waktu dekat menurut Pak Choi, pemantauan akan terus dilakukan.
Upaya mitigasi bencana yang dilakukan di wilayah Danau Tunjung, Kabid KSDA Wilayah 3 Jember Purwantono mengaku siap untuk melakukan koordinasi bersama. “Kaitan dengan kondisi Danau Tunjung, memang kami dari Balai Besar KSDA Jawa Timur pada tanggal 15 Januari 2025 melakukan pengecekan ke sana. Dan memang kondisinya kami anggap aman, dilihat dari keberadaan air yang ada di danau sendiri,” ungkap Purwantono.
Debit air sendiri tidak sebanyak yang diperkirakan. Kapasitas volume air yang ada masih dalam tahap normal. Namun demikian, diperlukan untuk dilakukan upaya mitigasi bencana. “Untuk memastikan kondisi retakan tanah yang dimaksud, maka nanti kita bersama-sama melakukan pengecekan,” ucapnya. Pihaknya juga akan koordinasi lebih lanjut dengan BPBD Jember dimana merekalah menurut Purwantono, yang paham masalah kebencanaan, sementara pihaknya mengaku hanya melakukan pengelolaan kawasan konservasi yang ada di Danau Tunjung.
Kepala BPBD Jember Widodo Juliyanto pun senada dengan upaya mitigasi bencana tersebut. Menurut dia, pihaknya juga berencana menggandeng ahli geologi agar mitogasi bencana tersebut bisa lebih tercapai. “Ya kita koordinasi memang, kita juga akan mengajak Ahli Geologi itu,” ujar Widodo. Tidak lupa masalah penguatan Destana di wilayah setempat, dimana warga desa siap dan sadar terhadap terjadinya bencana itu terjadi.


