JOMBANG, FaktualNews.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengisyaratkan kesiapannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35. Menurutnya, masih ada sejumlah agenda organisasi yang belum tuntas selama masa kepemimpinannya.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Minggu (12/7/2026), menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Menanggapi peluang kembali mencalonkan diri, Gus Yahya menegaskan keinginannya bukan dilandasi ambisi mempertahankan jabatan, melainkan tanggung jawab untuk menyelesaikan amanah yang pernah disampaikan kepada warga Nahdlatul Ulama.

Sejak awal mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU, kata dia, telah membawa sejumlah program dan komitmen yang ingin diwujudkan. Namun, berbagai dinamika selama masa kepengurusan membuat sebagian agenda belum dapat direalisasikan secara menyeluruh.

“Ada beberapa agenda yang belum dapat saya tuntaskan. Dalam pandangan saya, itu menjadi tanggung jawab yang masih harus diselesaikan apabila memang diberikan kesempatan,” ujar Gus Yahya kepada awak media.

Ia menilai perubahan situasi yang terjadi selama memimpin organisasi mengharuskan sejumlah program menyesuaikan kondisi yang berkembang. Karena itu, ia merasa masih memiliki tanggung jawab moral untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung.

Gus Yahya mengibaratkan komitmen yang belum terlaksana sebagai utang yang harus dilunasi kepada organisasi dan seluruh warga Nahdlatul Ulama.

“Kalau seseorang masih memiliki utang, tentu ia berkewajiban melunasinya. Begitu juga yang saya rasakan terhadap amanah yang pernah saya sampaikan kepada warga NU,” katanya.

Meski membuka peluang kembali maju, Gus Yahya menegaskan keputusan mengenai siapa yang akan memimpin PBNU sepenuhnya berada di tangan peserta Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama.

“Kalau memang diberi kesempatan untuk menyelesaikan amanah itu, tentu akan saya jalankan. Tetapi apabila forum memiliki keputusan lain, saya juga harus menghormatinya,” tuturnya.

Muktamar NU ke-35 menjadi momentum penting karena berlangsung saat Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua perjalanan organisasinya. Selain memilih kepengurusan baru, forum tersebut juga akan merumuskan arah kebijakan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan di tingkat nasional maupun global.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menegaskan pergantian kepemimpinan di tubuh NU bukan sekadar pergantian figur. Yang lebih penting, menurutnya, adalah memastikan organisasi tetap mampu menjalankan perannya sebagai pelayan umat sekaligus memberikan kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan.

Ia berharap seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 berlangsung kondusif, menjunjung tinggi musyawarah, serta memperkuat persatuan di kalangan warga nahdliyin.

“Siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin, saya berharap Muktamar menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama serta semakin memperkuat pengabdian organisasi kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pungkasnya. (KabarJombang.com)