JOMBANG, FaktualNews.co-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, kembali menuai sorotan.

Seorang wali murid berinisial W mengeluhkan dugaan menu MBG berjamur yang diterima anaknya Jumat (30/1/2026).

Temuan tersebut memicu kekhawatiran serius, terutama karena sasaran program adalah anak-anak sekolah.

Menu MBG yang dipersoalkan diketahui berasal dari dapur SPPG Desa Tambar, Kecamatan Jogoroto.

Dugaan makanan tidak layak konsumsi itu mencuat setelah sejumlah wali murid menemukan roti dengan kondisi mencurigakan, diduga berjamur dan berlendir.

W mengaku awalnya tidak langsung mengetahui persoalan tersebut. Informasi pertama kali ia terima dari percakapan di grup WhatsApp wali murid yang mendadak ramai membahas kondisi roti MBG.

“Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi di grup ramai soal roti berjamur. Saya lihat fotonya, saya zoom, dan memang kelihatan seperti jamur,” ujar W saat dikonfirmasi.

Khawatir akan dampak kesehatan, W langsung melarang anaknya mengonsumsi roti tersebut.

“Saya langsung bilang ke bapaknya, rotinya jangan dimakan. Takut terjadi apa-apa seperti kejadian sebelumnya. Akhirnya rotinya dibuang, anaknya tidak sampai tahu,” katanya.

Menurut W, keluhan serupa sebenarnya cukup banyak muncul di grup WhatsApp. Namun suasana berubah drastis ketika ada wali murid yang menyarankan agar masalah disampaikan langsung ke dapur MBG.

Tak lama berselang, pesan-pesan keluhan di grup disebut mendadak dihapus.

“Ada yang bilang rotinya seperti ‘ngiler’, ada lendirnya. Tapi komentarnya langsung dihapus,” ungkapnya.

Lebih jauh, W menyebut adanya dugaan intimidasi yang membuat para wali murid memilih bungkam.

“Ada yang bilang kalau ada masalah nanti urusannya ke kepolisian. Setelah itu komentar-komentar langsung dihapus. Banyak yang akhirnya takut bicara,” tegasnya.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.30–10.00 WIB. W menduga roti itu merupakan menu pengganti snack, yang biasanya diganti dengan buah. Ia menegaskan bahwa menu utama relatif aman.

“Kalau menu utama ayamnya aman, ayam saus wijennya tidak ada masalah. Yang bermasalah hanya rotinya,” jelasnya.

W menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele dan menyayangkan sikap pihak terkait yang terkesan menormalisasi kondisi tersebut.

“Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Kalau sampai ada yang keracunan, dampaknya bisa besar. Harusnya kalau ada temuan seperti ini, makanannya ditarik, bukan malah dibagikan,” tandasnya.

Sementara itu, Saiful, yang mengaku sebagai pemilik SPPG Desa Tambar, membantah keras tudingan adanya roti berjamur dalam menu MBG yang diproduksi dapurnya.

“Informasi itu tidak benar. Kalau fotonya sama, saya juga tidak tahu itu roti dari mana. Di dapur kami kondisinya masih bagus,” kilahnya, Jumat (30/1/2026).

Ia juga mengklaim pihak sekolah tidak mengetahui adanya persoalan tersebut.

“Kata pihak sekolah juga tidak tahu ada masalah. Bahkan ada yang bilang tadi dimakan juga tidak apa-apa,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan Evi, Kepala Dapur SPPG Desa Tambar. Ia menegaskan bahwa informasi roti basi atau berjamur tidak benar dan membantah tudingan yang beredar di grup wali murid.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari instansi pengawas atau dinas terkait mengenai standar kelayakan makanan MBG maupun dugaan intimidasi terhadap wali murid yang menyampaikan keluhan.