SAMPANG, FaktualNews.co-Ramadan bagi masyarakat Sampang tidak datang begitu saja sebagai penanda waktu ibadah.

Sebelum Ramadan tiba, didahului rangkaian ritual sosial dan religius yang diwariskan lintas generasi, mulai dari ziarah leluhur hingga gotong royong membersihkan masjid.

Tradisi-tradisi ini, meski tampak sederhana, merekam cara orang Madura membangun kesalehan kolektif sekaligus merawat ikatan komunitas.

Kebiasaan yang lazim dilakukan masyarakat Sampang dalam menghadapi bulan suci Ramadan beragam. Meski kerap dianggap kecil dan sepele, praktik-praktik ini memiliki makna yang amat penting bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat setempat.

Salah satu tradisi yang menonjol adalah persiapan ziarah makam yang dilakukan setiap Kamis sore atau menjelang malam Jumat.

Meski tidak keseluruhan, namun di beberapa tempat masyarakat mulai membersihkan makam keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Dalam bahasa Madura, kegiatan ini disebut akosaran atau akosar.

Menjelang malam Jumat, keluarga datang berziarah ke kuburan leluhur, lalu membersihkan makam agar tidak ditumbuhi semak atau rumput liar.

Selain itu, masyarakat juga mengadakan kegiatan bersih-bersih masjid. Tikar, karpet (hambal), dan perlengkapan ibadah lainnya dicuci dan ditata kembali.

Bersamaan dengan itu, dibentuk pula panitia persiapan Ramadan, termasuk pembagian tugas imam dan pembaca salawat.

Penjadwalan imam salat tarawih, terutama untuk malam pertama dan malam-malam berikutnya, diatur secara bergiliran sebagai bentuk musyawarah dan kebersamaan komunitas.

Masyarakat juga membentuk panitia sedekah yang bertugas mengoordinasikan penyediaan makanan di masjid.

Biasanya, pengumuman pendaftaran penyumbang makanan dilakukan pada Jumat terakhir sebelum Ramadan.

Beberapa masjid juga menyalurkan santunan kepada kaum duafa dan anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial masyarakat.

Rangkaian ritual ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Sampang, menyambut Ramadan bukan sekadar persiapan individu, melainkan kerja kolektif yang memadukan penghormatan kepada leluhur, perawatan ruang ibadah, serta penguatan solidaritas sosial.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi penanda penting bagaimana agama dan budaya lokal saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat Madura.

Dari akosar makam hingga bersih masjid, tradisi masyarakat Sampang menjelang Ramadan bukan sekadar rangkaian kebiasaan rutin yang diulang setiap tahun.

Ia adalah ingatan kolektif yang terus diwariskan, sebuah cara orang Madura menegaskan hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada, antara ruang sakral dan ruang sosial, antara iman personal dan solidaritas komunal.

Di balik sapu lidi yang menyapu pusara leluhur dan tangan-tangan yang mencuci tikar masjid, tersimpan pesan bahwa Ramadan harus disambut dengan kebersihan lahir dan batin, dengan keteraturan sosial, serta dengan kepedulian terhadap sesama.

Tradisi-tradisi ini, meski tumbuh dari ruang lokal, mencerminkan nilai universal tentang kebersamaan, penghormatan, dan kesalehan sosial.

Dengan demikian, menyongsong Ramadan di Sampang bukan hanya soal memasuki kalender ibadah. Melainkan juga tentang merawat identitas budaya, menjaga kesinambungan sejarah, dan meneguhkan kembali jalinan sosial yang telah lama menjadi penyangga kehidupan masyarakat Madura.