Perjalanan Sakral dari Rajab ke Ramadan dalam Tradisi Masyarakat Sampang Madura
SAMPANG, FaktualNews.co – Bagi masyarakat Sampang, Madura, Ramadan tidak datang begitu saja.
Ramadan disambut melalui rangkaian ritual panjang yang sarat makna spiritual dan sosial, dari peringatan Isra Mi’raj di bulan Rajab, tradisi sedekah Rebbe di bulan Syaban, hingga doa-doa khusus menjelang puasa.
Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai bentuk persiapan lahir dan batin, sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Kebiasaan yang lazim dilakukan masyarakat Sampang menjelang bulan suci Ramadan sangat beragam. Salah satunya adalah memperbanyak sedekah pada bulan Syaban, yang oleh orang Madura disebut bulan Rebbe.
Istilah Rebbe berasal dari kata “ruah“, yang dalam pemahaman masyarakat berarti memohon bantuan doa kepada para ulama, kiai, ustaz, dan para lora (tokoh agama).
Dalam tradisi Rebbe, masyarakat membawa makanan seperti nasi, ikan, kue, serta secangkir kopi. Di atas hidangan itu biasanya diletakkan uang seikhlasnya, yang disebut salabet, dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp2.000 hingga Rp10.000, sesuai kemampuan.
Sedekah ini diniatkan sebagai permohonan doa sekaligus hadiah pahala bagi para leluhur yang telah meninggal dunia.
Tradisi sedekah Rebbe biasanya semakin intens dilakukan menjelang akhir bulan Syaban, terutama pada malam Jumat, terlebih malam Jumat terakhir.
Tidak hanya itu, pada tanggal 15 Syaban, masyarakat melaksanakan ritual malam Nisfu Syaban, dengan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali.
Setelah itu, usai Magrib atau sebelum Isya, mereka membaca doa “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin”.
Pada momen ini pula, tradisi Rebbe kembali dilakukan, biasanya dengan sedekah nasi dan lauk ayam kepada kiai atau tokoh agama sebagai permohonan doa.
Kemudian pada tanggal 25 Syaban, tradisi sedekah Rebbe diwujudkan dalam bentuk ketupat yang dibungkus janur, lengkap dengan lauk, umumnya ayam kampung.
Hidangan ini dilengkapi dengan kue serabi, yang dibuat dari tepung beras dicampur parutan kelapa muda, sedikit garam, dan dibentuk bundar. Kemudian disajikan dengan kuah santan yang dicampur gula merah atau gula pasir.
Ritual sedekah pada malam 25 Syaban ini bertujuan memohon keselamatan selama menjalankan ibadah puasa, sekaligus berharap agar arwah para almarhum mendapatkan ketenangan.
Dalam keyakinan masyarakat, sedekah diyakini mampu menangkal bencana dan mendatangkan keberkahan.
Bagi umat Islam di Madura, khususnya masyarakat Sampang, orientasi kehidupan religius sangat dipengaruhi petuah para ulama, kiai, dan sesepuh. Mereka meyakini bahwa ada tiga bulan istimewa dalam kalender Islam, Rajab, Syaban, dan Ramadan.
Di bulan Rajab, masyarakat memperingati Isra Mi’raj pada tanggal 27 Rajab dengan berbagai kegiatan keagamaan di masjid.
Rangkaian ini kemudian berlanjut ke bulan Syaban dengan tradisi Rebbe, hingga akhirnya memasuki Ramadan dengan kesiapan spiritual dan sosial yang matang.
Dengan rangkaian ritual ini, masyarakat Sampang tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga menjaga kebersihan lahir, kesehatan tubuh, serta memperkuat solidaritas sosial.
Tradisi yang dijalankan secara istiqamah setiap tahun ini menjadi bukti kuat bagaimana agama dan budaya lokal berpadu dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Di tengah perubahan zaman, ritual tiga bulan suci Rajab, Syaban, dan Ramadan tetap hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat Sampang.
Dari gema peringatan Isra Mi’raj hingga lantunan doa malam Nisfu Syaban, dari sedekah Rebbe hingga hidangan ketupat dan serabi, semua menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada, antara tradisi dan iman.
Rangkaian ritual ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan ikhtiar kolektif untuk menata jiwa sebelum memasuki Ramadan.
Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang menyucikan batin, merawat solidaritas sosial, dan menjaga kesinambungan warisan spiritual yang diwariskan para ulama dan leluhur Madura.
Dengan demikian, bagi masyarakat Sampang, tiga bulan suci bukan hanya penanda kalender, melainkan sebuah perjalanan sakral dari Rajab menuju Ramadan yang terus dirawat sebagai identitas religius dan kultural hingga hari ini.


