LAMONGAN, FaktualNews.co- Komunitas Lamongan Football Culture (LFC) kembali menegaskan eksistensinya sebagai penjaga nyala semangat sepak bola daerah dengan merilis jersey edisi spesial bertajuk “Gemuruh Dalam Diam.” Dirancang oleh desainer visual lokal, Rifqee Hulk, dan diproduksi bersama Apparel Allegiant

Indonesia, jersey ini langsung mengebrak hingga terjual habis hanya dalam 9 menit setelah pre-order dibuka.

Antusiasme publik pecinta bola Lamongan tampak membuncah di media sosial. Unggahan visual jersey mendapat banjir pujian, menjadi bukti nyata bahwa budaya sepak bola Lamongan masih hidup, meski dalam bentuk yang lebih kreatif dan membumi.

“Desain ini bukan hanya soal pakaian. Ini adalah simbol perlawanan diam atas atmosfer stadion yang mati karena pembatasan. Ini bentuk cinta diam-diam yang tak pernah padam,” ujar Rifqee Hulk, desainer LFC 2.0. Selasa (3/6/2025).

Menurut Rifqee, simbol-simbol lokal dalam desain ini mengandung narasi yang kuat tentang Lamongan. Di antaranya, Tameng, sebagai lambang kepercayaan diri dan perlindungan. Gapura Paduraksa, ikon penyambutan khas Lamongan.

Ikan Lele dan Bandeng, kuliner legendaris daerah. 11 garis lancip ke atas, melambangkan semangat tim home dan away. Logo 1967, sebagai penanda tahun berdirinya Persela.

Tiga lingkaran dan gelombang air, simbol kerja sama dan keseimbangan. Zig-zag pattern, representasi tantangan yang harus ditaklukkan dan 456 lubang ventilasi, penghormatan pada Hari Jadi Lamongan ke-456.

“Jersey ini dibuat dengan teknologi Dryfit Jacquard Premium, kerah Polo ALG Triangle, dan logo eksklusif Flock Tatami. Fitur Air Circulation 456 holes dirancang untuk memberi kenyamanan maksimal,” jelas Rifqee

Sementara itu, Muhamad Harryanto, Founder Apparel Allegiant Indonesia, menyebut bahwa kolaborasi ini bukan sekadar proyek desain, tetapi gerakan kultural.

“Lamongan Football Culture bukan hanya tentang nostalgia, tapi juga tentang keberanian menjaga identitas. Sold out dalam 9 menit hanyalah angka. Yang lebih penting adalah bagaimana jersey ini membangunkan kesadaran kolektif akan pentingnya merawat budaya lokal,” tegas Harryanto.

Jersey “Gemuruh Dalam Diam” menjadi bukti bahwa dalam diamnya stadion, suara para pecinta sepak bola Lamongan masih menggema, dengan cara yang elegan, simbolik, dan penuh makna.