Harga Bibit Tembakau di Sampang Melonjak, Petani Berebut Tanam Lebih Awal
SAMPANG, FaktualNews.co – Harga bibit tembakau di wilayah Sampang, Madura, mengalami kenaikan memasuki awal musim tanam tahun 2026.
Harga bibit tembakau saat ini mencapai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per 1.000 batang, jauh di atas harga normal.
Salah satu penjual bibit tembakau, Mas Ik, mengatakan kenaikan harga terjadi karena stok bibit di pasaran masih terbatas, sementara permintaan dari petani meningkat tajam.
“Harga bibit tembakau sekarang sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per seribu batang. Penyebabnya karena stok sedikit, sedangkan yang membutuhkan banyak, apalagi petani sekarang banyak yang menanam lebih awal,” ujarnya, Selasa (21/4/2024).
Ia menjelaskan, sebagian besar bibit tembakau milik petani sendiri saat ini belum siap untuk dipindah tanam. Kondisi tersebut membuat banyak petani memilih membeli bibit dari penjual demi mengejar waktu tanam yang lebih awal.
“Petani yang membeli ke saya itu dari berbagai daerah, ada yang dari daerah Sumenep, Sampang, terutama Pamekasan daerah saya sendiri,” bebernya.
Menurutnya, percepatan masa tanam dilakukan karena sebagian lahan sudah siap diolah dan ditanami tembakau. Hal ini turut memicu meningkatnya kebutuhan bibit dalam waktu bersamaan.
“Bibit milik petani kebanyakan masih belum siap dipindah tanam. Jadi banyak yang membeli dulu untuk mengejar tanam lebih awal, apalagi lahannya sudah siap ditanami tembakau,” jelasnya.
Meski demikian, ia memperkirakan harga bibit tembakau tidak akan terus bertahan tinggi.
“Kalau nanti bibit milik petani sudah besar dan stok melimpah, kemungkinan harga akan kembali normal lagi seperti semula, sekitar Rp30 ribu sampai Rp40 ribu per seribu batang. Biasanya sekitar bulan Mei bibit sudah mulai besar dan harga mulai turun,” pungkasnya.
Sementara itu, petani tembakau asal Sampang, Ahmad, mengatakan dirinya menanam tembakau membeli bibit dari luar daerah.
“Saya beli bibit tembakau dengan harga 60 ribu per seribu batangnya,”ucap Ahmad.
Dirinya mengaku, menanam lebih awal dikarenakan lahannya sudah siap untuk ditanami. Kalau dibiarkan terlalu lama, kondisi tanah semakin liat sehingga tidak bisa ditanami.
“Selain itu, ketika nanamnya bersamaan dengan warga yang lain, akan kesulitan untuk mencari pekerja karena bentrok dengan yang lain,” tandasnya.


