Dugaan Keracunan MBG Telat Dilaporkan, Dinkes Tulungagung Nyaris Kehilangan Sampel Makanan
TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rejotangan terlambat dilaporkan. Untungnya, petugas kesehatan masih bisa mengamankan sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Aris Setiawan mengatakan, baru menerima laporan dugaan keracunan MBG itu pada Rabu (29/7/2026) siang. Artinya, Dinkes baru mengetahui kejadian itu dua hari setelahnya, mengingat kejadian itu terjadi pada Senin (27/7/2026).
“Pada Senin malam hingga Selasa siang, penerima manfaat sudah merasakan gejalanya, tetapi kami tidak segera mendapat laporan kejadian itu,” kata Aris Setiawan, Jumat (31/7/2026).
Setelah menerima laporan, petugas segera menuju Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo untuk melakukan pemeriksaan. Selain itu, petugas juga membawa sampel makanan yang disajikan pada hari itu.
Untungnya, petugas masih bisa mendapatkan sampel itu untuk kebutuhan uji laboratorium di BBLKM Surabaya. Sampel yang dikirim meliputi nasi, daging sapi olahan, oseng buncis tempe dan selada air.
“Proses uji laboratorium sampel itu diperkirakan akan selesai dan kami akan menerima hasil uji laboratorium itu dalam kurun waktu dua pekan kedepan,” ungkapnya.
Sesuai keterangan dari para korban, mereka mengeluhkan soal olahan daging yang sempat mengeluarkan aroma tidak sedap. Bahkan saat dikonsumsi pada siang hari, olahan daging itu mulai berubah tekstur dan berlendir.
Selain itu, Dinkes juga menemukan bungkus plastik berisi minuman Hydro Coco dan obat diare di SPPG Panjerejo. Sesuai pengakuan pihak SPPG, minuman dan obat diare itu untuk membantu penanganan awal bagi penerima manfaat yang bergejala diare.
“Meskipun minuman dan obat diare dijual bebas, tapi ini menyangkut makanan yang dikonsumsi banyak orang. Sebaiknya kalau ada kejadian tetap berkoordinasi dengan tenaga kesehatan,” pungkasnya.


