RSUD Jombang Hadirkan Bedah Minimal Invasif, Operasi Lebih Cepat Pulih dan Minim Nyeri
JOMBANG, FaktulNews.co-Paradigma masyarakat tentang operasi besar dengan sayatan panjang, nyeri hebat, dan masa pemulihan lama kini mulai berubah.
RSUD Kabupaten Jombang menghadirkan layanan bedah minimal invasif yang memungkinkan pasien menjalani tindakan operasi dengan sayatan kecil, nyeri minimal, serta pemulihan yang jauh lebih cepat.
Hal ini disampaikan dr. Ida Bagus Trisnanda Putra, Sp.B., M.Ked.Klin, dokter spesialis bedah RSUD Jombang, dalam Podcast Humas RSUD Jombang Menyapa pada Rabu (21/1/2026).
Bedah minimal invasif merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan melalui sayatan kecil, dengan tujuan meminimalkan kerusakan jaringan tubuh sehingga proses penyembuhan berlangsung lebih cepat dibandingkan operasi terbuka (open surgery).
“Kalau dulu operasi perut bisa dengan sayatan 10 sampai 25 sentimeter, sekarang dengan teknologi minimal invasif, khususnya laparoskopi, sayatan cukup sekitar 1 sentimeter, biasanya di area pusar (umbilikus),” jelas dr. Ida Bagus.
Pada tindakan laparoskopi, dokter menggunakan alat berupa kamera laparoskop yang dimasukkan ke dalam rongga perut.
Kamera ini dibantu insuflator, alat yang mengalirkan gas untuk menciptakan ruang kerja di dalam perut sehingga organ-organ dapat terlihat jelas meski hanya melalui lubang kecil.
Jenis Tindakan Minimal Invasif di RSUD Jombang
RSUD Jombang saat ini telah rutin melakukan berbagai tindakan bedah minimal invasif, antara lain:
Operasi usus buntu (apendisitis), baik yang masih akut maupun yang sudah perforasi
Pengangkatan kantong empedu (kolesistektomi laparoskopi)
Penanganan abses dan kista hati (liver)
Reseksi dan anastomosis usus dengan teknik laparoskopi
Bedah anorektal berbasis laser, seperti:
Hemoroid (ambeien)
Fistula perianal
Menariknya, meskipun ukuran batu empedu bisa mencapai 3 sentimeter, tindakan tetap dapat dilakukan melalui sayatan 1 sentimeter.
“Batunya dihancurkan di dalam rongga perut, sehingga hasil akhirnya tetap baik secara medis dan kosmetik,” tambahnya.
Menurut dr. Ida Bagus, bedah minimal invasif memiliki banyak keunggulan dibandingkan operasi konvensional, di antaranya:
Nyeri pascaoperasi lebih ringan
Risiko perdarahan lebih kecil
Masa rawat inap lebih singkat
Pemulihan lebih cepat
Bekas luka minimal dan lebih estetis
“Kalau dulu pasien operasi usus buntu baru bisa mobilisasi hari ke-2 atau ke-3 dan pulang hari ke-4 atau ke-5, sekarang dengan laparoskopi, pasien bisa mobilisasi di hari yang sama dan pulang keesokan harinya,” ujarnya.
Hal ini sangat membantu terutama bagi pasien usia produktif yang tidak perlu mengambil cuti kerja terlalu lama.
Selain laparoskopi, RSUD Jombang juga rutin melakukan tindakan laser untuk penyakit di area anus. Laser termasuk dalam kategori minimal invasif karena tidak memerlukan sayatan besar.
“Pada hemoroid, kita cukup memasukkan jarum ke benjolan, lalu energi panas dari laser membantu mengecilkan pembuluh darah yang bermasalah,” jelasnya.
Keunggulan laser antara lain:
Nyeri minimal
Perdarahan sangat sedikit
Risiko penyempitan anus (stenosis ani) sangat rendah
Pemulihan cepat
Namun demikian, tidak semua kasus dapat ditangani dengan laser murni. Pada hemoroid interna grade IV atau fistula perianal kompleks dan berulang, tindakan laser biasanya dikombinasikan dengan teknik lain atau memerlukan pendekatan berbed.
Ida Bagus menegaskan bahwa meskipun hampir semua operasi perut dapat dilakukan secara laparoskopi, keputusan tetap bergantung pada kondisi pasien dan temuan saat operasi.
“Kalau dalam tindakan laparoskopi ditemukan kondisi yang membahayakan, maka bisa dilakukan konversi ke operasi terbuka. Yang utama tetap keselamatan pasien,” tegasnya.
Kabar baiknya, layanan bedah minimal invasif di RSUD Jombang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Hampir semua pasien BPJS, baik kelas 1, kelas 3, maupun PBI, bisa menikmati layanan ini. Bahkan pasien dari luar Kabupaten Jombang juga banyak yang datang ke sini,” ungkapnya.
Saat ini, RSUD Jombang menjadi salah satu rumah sakit rujukan dengan fasilitas bedah minimal invasif terlengkap di wilayah Jombang dan sekitarnya.
Menutup perbincangan, dr. Ida Bagus mengingatkan masyarakat agar tidak mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan informasi internet.
“Silahkan mencari informasi sebagai pembanding, tapi jangan menentukan diagnosis sendiri. Datanglah ke dokter, nanti kita bahas dan selesaikan bersama,” pesannya.
Dengan hadirnya teknologi bedah minimal invasif, masyarakat tidak perlu lagi takut menjalani operasi. Sayatan kecil, manfaat besar, dan pemulihan lebih cepat kini bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi layanan nyata di RSUD Kabupaten Jombang.


