KEDIRI, FaktualNews.co – Di balik keruhnya aliran Sungai Brantas yang membelah Kota Kediri, sejumlah pasang mata terus waspada memantau dasar sungai.

Bukan sekadar mengejar pundi-pundi rupiah dari butiran pasir, para penambang tradisional ini perlahan menjelma menjadi garda depan yang menjaga ekosistem sungai dari kepungan sampah plastik.

​Meski seringkali mendapat stigma negatif sebagai perusak lingkungan, realita di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Para penambang ini secara sukarela membersihkan dasar sungai dari limbah yang tak terlihat dari permukaan.

​”Banyak yang menilai kita jika penambangan pasir ini yang berpotensi merusak fondasi jembatan dan ekosistem sungai. Justru kami ikut menjaga kebersihan sungai Brantas. Karena kita sering menemukan sampah plastik di dasar sungai Brantas, yang kemudian kita bawa ke daratan, untuk dibuang di tempat sampah plastik,” kata Marlan, Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional, Selasa (12/5/2026).

​Komitmen menjaga Brantas dibuktikan dengan penolakan keras terhadap penggunaan alat berat. Marlan menegaskan bahwa dari wilayah Semampir hingga Mojoroto yang mencakup 8 titik penambangan, seluruhnya beroperasi secara manual demi menjaga struktur dasar sungai.

​“Di sini memang tidak ada mekanik, adanya manual, murni manual. Kalau ada penambang pasir mekanik, pasti akan kami tolak,” imbuh Marlan.

​Metode yang digunakan tergolong sangat tradisional dan menantang maut. Para penambang harus menyelam hingga kedalaman 4 meter dengan peralatan sederhana seperti songkro, pacok dan donak. Perahu bermesin yang sering terlihat di lokasi pun ditegaskan hanya sebagai alat transportasi, bukan alat pengisap pasir.

​“Kalau ada mesin di perahu itu hanya membantu ke tengah dan ke pinggir sungai, bukan untuk mengambil pasir. Pengambilannya tetap manual,” ujarnya.

​Kehidupan sebagai penambang tradisional sangat bergantung pada suasana hati alam. Saat musim hujan tiba dan arus Brantas mengganas, mereka memilih untuk menepi demi keselamatan, meski itu berarti kehilangan pendapatan harian.

​Lutfi Zakaria, salah satu penambang, menceritakan bagaimana setiap harinya ia harus berjibaku dengan arus dan sampah yang menyangkut di dasar sungai.

​”Kalau musim hujan kita tidak berani mencari pasir, karena arusnya deras. Dan saat mencari pasir, kita sering menemukan sampah plastik yang ikut terbawa arus. Dalam sehari kita mampu memperoleh 80 sampai 100 ribu rupiah,” ungkap Lutfi.

​Kini, para penambang tradisional yang telah melakoni profesi ini selama lebih dari 30 tahun tersebut berharap adanya keadilan dalam memandang aktivitas mereka. Mereka meminta agar publik maupun pemangku kebijakan tidak menggeneralisasi aktivitas tambang manual dengan praktik ilegal yang merusak lingkungan.