JOMBANG, FaktualNews.co-Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Peternakan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kembali merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang mulai terdeteksi pada awal tahun 2026.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah percepatan vaksinasi pada ternak sapi milik masyarakat.

Berdasarkan data resmi Dinas Peternakan Kabupaten Jombang hingga Kamis (15/1/2026), tercatat 32 ekor sapi dinyatakan positif terjangkit PMK.

Penyakit ini diketahui mudah menular dan berisiko menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing, serta domba.

Kepala Dinas Peternakan Jombang melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Azis Daryanto, menyampaikan bahwa kasus PMK tersebut tersebar di 10 kecamatan. Kecamatan Jogoroto menjadi wilayah dengan jumlah temuan terbanyak.

“Sebagian besar kasus memang berada di Jogoroto. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlahnya relatif lebih rendah,”ujar Azis.

Adapun rincian sebaran 32 kasus PMK tersebut meliputi:

Jogoroto: 15 ekor

Jombang dan Perak: masing-masing 3 ekor

Bandar Kedungmulyo, Bareng, Gudo, dan Sumobito: masing-masing 2 ekor

Kudu, Mojowarno, dan Peterongan: masing-masing 1 ekor

Sebagai upaya memutus mata rantai penularan, Disnak Jombang mulai melaksanakan vaksinasi PMK secara bertahap. Kegiatan perdana dilakukan di Kecamatan Wonosalam dengan memanfaatkan bantuan vaksin dari APBN tahun 2025 yang disalurkan melalui KUD.

“Pelaksanaan vaksinasi dimulai di Wonosalam dengan sekitar seribu dosis. Targetnya seluruh sapi milik warga, khususnya di Desa Wonomerto dan Galengdowo, akan divaksin hingga pekan depan,” jelas Azis.

Selain vaksinasi, Disnak juga melakukan pengendalian rutin berupa penyemprotan disinfektan di pasar-pasar hewan. Kegiatan tersebut dilakukan secara berkala setiap dua minggu sekali.

“Pasar hewan yang menjadi fokus penyemprotan antara lain Pasar Kabuh, Ploso, Tambar, Ngoro, Sidowarek, serta Mojoagung,” tambahnya.

Menurut Azis, munculnya kembali PMK diduga kuat dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem yang terjadi selama musim penghujan. Lingkungan yang lembap dinilai mempercepat perkembangan virus.

Selain faktor cuaca, masih banyaknya pedet yang belum mendapatkan vaksin, serta masuknya ternak dari luar daerah tanpa riwayat vaksinasi yang jelas, juga menjadi pemicu meningkatnya risiko penularan.

Disnak Jombang mengingatkan para peternak agar tetap waspada dan berperan aktif dalam pengendalian PMK dengan cara. Melaporkan segera jika ditemukan gejala PMK pada ternak, mengisolasi hewan yang sakit dari ternak sehat, mengikuti program vaksinasi pemerintah, menjaga kebersihan kandang dan menerapkan biosekuriti secara ketat.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan para peternak, Disnak Jombang berharap penyebaran PMK dapat ditekan dan tidak meluas ke wilayah lain.