Cuaca Ekstrem, Nelayan Situbondo Jadi Pencari Kerang, Gadaikan Daster dan Sarung
SITUBONDO, FaktualNews.co-Cuaca ekstrem yang menerjang pantai utara Situbondo, mengakibatkan para nelayan di pesisir pantai Situbondo takut melaut. Mereka memilih menyandarkan perahunya di bibir pantai.
Pasalnya, akibat cuaca ekstrem menerjang kawasan Situbondo, dalam tiga pekan terakhir ini, mengakibatkan gelombang tinggi mencapai dua meter lebih di perairan Situbondo.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya setiap hari, para nelayan beralih profesi menjadi pencari kerang saat air laut surut.
Sebagian nelayan bekerja sebagai kuli bangunan, dan menggadaikan perhiasan emas dan perabot rumah tangganya.
“Bahkan, sebagian nelayan diketahui juga menggadaikan baju daster istrinya dan sarungnya untuk memenuhi kebuthan hidupnya, meski dalam menggadaikan puluhan potong baju, dan sarung hanya mendapat uang Rp70 ribu,”ujar Heri Prayitno (37), Ketua Himpunan Nelayan di Kampung Pesisir, Desa Kilensari, Rabu (28/1/2026).
Pria yang akrab dipanggil Heri menambahkan, tercatat sebanyak 1000 warga kampung pesisir, Desa Kilensari yang berprofesi sebagai nelayan. Selain beralih profesi menjadi kuli bangunan dan pencari kerang.
“Namun, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari, para nelayan kampung pesisir juga pinjam uang kepada para pemilik perahu,”bebernya.
Lebih jauh Heri menjelaskan, pihaknya memprediksi cuaca ekstrem akan berakhir pada 2 Pebruari 2026 mendatang.
Oleh karena itu, pihaknya berharap Pemkab Situbondo memberikan paket sembako kepada para nelayan.
“Mengingat, selama cuaca ekstrem para nelayan tidak berani untuk melaut. Makanya, dalam kondisi tersebut kami butuh kehadiran pemerintah dalam kondisi tersebut,”pungkasnya.
Sementara itu, Gondrong (40), salah seorang nelayan asal Kalbut, Kecamatan Mangatakan, pihaknya terpaksa alih profesi menjadi pedagang pisang, untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan dua anaknya.
“Karena saya tidak melaut saat cuaca ekstrem, sehingga saya terpaksa berjualan pisang untuk memenuhi kebutuhan keluarga,”kata Gondrong.
Gondrong menegaskan, selama cuaca ekstrem menerjang Situbondo, sebagian nelayan mengisi waktu luangnya untuk memperbaiki jaringnya yang rusak, dan menembel perahunya yang bocor.
“Saat cuaca ekstrem, sebagian nelayan juga membantu pemilik perahu untuk memperbaiki jaring yang rusak, dan menambal perahunya yang bocor,”katanya.


