Jembatan Ambruk, Belasan Siswa Nyebrang Sungai Pakai Rakit Bambu
JEMBER, FaktualNews.co – Akibat terhempas banjir di aliran Sungai Mandilis tanggal 22 Desember 2024 lalu, jembatan yang dibangun swadaya oleh warga sepanjang kurang lebih 70 meter putus. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, dengan Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember. Kurang lebih 200 warga yang tinggal di wilayah Hutan Tetelan wilayah setempat, kesulitan akses jalan untuk menyebrang. Belasan siswa sekolah kesulitan untuk berangkat maupun pulang sekolah.
Sebagai upaya sementara untuk membantu akses warga dan juga siswa sekolah. Anggota Polsek Tempurejo bersama Koramil setempat, juga dibantu warga membuat rakit sederhana dari batang pohon bambu. Mereka membantu warga, khususnya siswa sekolah untuk menyebrangi sungai setempat. “Sejak banjir terakhir itu, kalau tidak salah tanggal 22 Desember. Setelah Banjir itu Jembatan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat itu hanyut,” kata Kapolsek Tempurejo AKP Heri Supadmo saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Rabu (15/1/2025).
Heri menjelaskan, jembatan yang putus itu dibangun oleh warga secara swadaya. Warga sudah empat kali membangun jembatan tersebut. “Karena putus ini, warga khususnya anak-anak sekolah itu kan tempat tinggalnya masuk wilayah Silo, tapi kan mereka sekolahnya di Sanenrejo, jadi mereka harus melewati sungai itu, sehingga ketika jembatan itu hanyut, mereka tidak ada akses lagi selain harus dinaikkan dengan rakit buatan sendiri oleh masyarakat, dinaikkan di situ, kemudian ditarik sama kita bersama warga, supaya mereka tidak telat,” jelasnya.
Untuk kegiatan menyebrangkan menggunakan rakit dari batang bambu itu dilakukan secara bergantian dan piket. Satu orang anggota Polsek dan dari Koramil Tempurejo membantu warga untuk menyebrang. “Untuk anak sekolah, setiap pagi dan saat pulang sekolah membantu. Hal itu dilakukan sembari menunggu proses perbaikan jembatan, yang kembali dibangun secara swadaya oleh masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut Mantan Kapolsek Patrang ini menjelaskan, warga yang memanfaatkan perahu rakit dari batang bambu itu adalah yang tinggal di wilayah Hutan Tetelan. “Satu-satunya akses jalan adalah menggunakan jembatan itu. Kalau harus memutar samgat jauh. Mereka profesinya petani hutan. Kurang lebih kemarin yang kita data melalui Gapoktannya, ada 200 orang petani hutan. Jadi bagi mereka yang punya lahan di situ, akses jembatan itu sangat berperan penting,” sambungnya.
Pembangunan jembatan secara swadaya itu dilakukan bukan karena ketidakpedulian pemerintah. Melainkan dikarenakan lokasinya masih masuk wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Sehingga masih dibahas soal perizinan dan nantinya dimungkinkan membangun jembatan lebih layak oleh pemerintah. Informasinya, warga sendiri iuran Rp 200 ribu untuk membangun jembatan tersebut. Dan diketahui hingga kini sudah terkumpul kurang lebih Rp 26 Juta.
Uang tersebut digunakan untuk membangun jembatan, juga membeli peralatan tali seling sepanjang 70 meter. “Beli dua tali, total ada 140 meter panjang talinya. Saat ini sudah proses pembangunan jembatan baru. Untuk proses pembahasan soal jembatan yang resmi oleh pemerintah, prosesnya mungkin juga perlu adanya MOU atau bagaimana, antara pemerintah dengan pihak Taman Nasional, mungkin nanti ada kerjasama di situ, karena itu adalah wilayah Taman Nasional Meru Betiri,” pungkas Heri.


