SAMPANG, FaktualNews.co-Dinas Lingkungan Hidup dan Permukiman Rakyat (DLH Perkim) Sampang mencatat, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat saat ini mencapai sekitar 20 ton per hari, dengan dominasi sampah organik.

Kepala Bidang Kebersihan dan Persampahan DLH Perkim Sampang, Aulia Arif, menjelaskan sampah tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari rumah tangga, pasar, pondok-pondok, hingga dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Yang kami tangani bukan hanya sampah dari MBG saja, tetapi dari semua sumber. Secara umum, sampah di Sampang memang didominasi sampah organik,” ujar Aulia Arif, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, sekitar 90 persen sampah merupakan sampah organik, sedangkan 10 persen sisanya non-organik, seperti plastik kresek dan sejenisnya.

“Sampah organik terbesar berasal dari dapur MBG, pasar tradisional, serta pondok-pondok yang jumlahnya cukup banyak,” kata Aulia Arif.

“Untuk sampah dari dapur MBG sendiri, volumenya cukup signifikan. Dalam satu minggu, sampah organik dari sektor tersebut bisa mencapai sekitar satu ton,” tambahnya.

Sementara itu, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Sampang saat ini masih relatif aman dan diperkirakan mampu menampung sampah selama satu hingga dua tahun ke depan.

“Selama masa itu, kami berusaha agar sampah yang masuk ke TPA bisa dikurangi. Salah satunya dengan melibatkan pemulung untuk mengambil sampah yang masih memiliki nilai jual,” jelasnya.

Dalam upaya pengelolaan sampah, DLH Perkim juga aktif melakukan sosialisasi hingga tingkat kecamatan, kelurahan, dan dapur MBG. Bahkan, pelatihan pengelolaan sampah juga telah digelar.

Namun, Aulia Arif mengakui bahwa penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) masih belum mudah diterapkan secara luas di masyarakat.

“Kalau langsung bicara 3R, itu masih terlalu berat. Karena itu, saya sampaikan hal yang paling sederhana dan mudah dilakukan, yaitu menghabiskan makanan yang sudah dibeli,” tegasnya.

Ia menilai kebiasaan sederhana seperti belanja seperlunya, masak seperlunya, dan makan sampai habis dapat memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah organik.

“Jangan sampai ada sisa makanan yang akhirnya membusuk dan menjadi sampah. Kalau seluruh warga Sampang membiasakan diri makan tanpa sisa, dampaknya akan sangat terasa,” kata Aulia.

Meski pertumbuhan penduduk terus meningkat dan otomatis berbanding lurus dengan volume sampah, Aulia Arif menegaskan bahwa pengurangan sampah tetap memungkinkan dilakukan.

“Setiap manusia pasti menghasilkan sampah. Tapi yang penting jangan boros sampah. Boleh konsumtif, asalkan dihabiskan. Kalau itu bisa dilakukan, pengurangan sampah tetap bisa dicapai,” pungkasnya.(Zainullah)