Prasasti Sambangan Lamongan, Jejak Sejarah Airlangga Terbengkalai
LAMONGAN, FaktualNews.co-Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan promosi wisata yang kian gencar, satu warisan sejarah penting justru dibiarkan terbengkalai. Prasasti Sambangan, yang terletak di Dusun Sambangan, Desa Sambangrejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, kini menyimpan kisah pilu. Prasasti tersebut nyaris dilupakan, terpapar cuaca, dan perlahan memudar dari ingatan bangsa.
Prasasti yang diperkirakan berasal dari masa kejayaan Kerajaan Airlangga ini ditemukan kembali melalui penggalian pada tahun 2023 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan.
Saat itu, harapan sempat tumbuh bahwa situs bersejarah ini akan mendapatkan perhatian dan pelestarian yang layak. Namun, nyatanya, harapan itu pupus seiring waktu berjalan.
Hingga kini, batu bersejarah itu tetap terbuka tanpa perlindungan apa pun. Tak ada cungkup, pagar pembatas, bahkan papan informasi. Aksara kuno yang terukir di permukaannya terus tergerus hujan dan panas, seakan dibiarkan hilang tanpa bekas.
“Prasasti ini bukan sekadar batu kosong tanpa cerita. Ia menyimpan jejak sejarah penting, namun dibiarkan begitu saja,” ungkap Supriyo, pemerhati sejarah dan budaya Lamongan, kepada wartawan, Rabu (23/7/2025).
Menurutnya, sikap pemerintah daerah terkesan lamban dan nyaris abai. Padahal prasasti ini telah masuk dalam daftar inventarisasi dan memiliki nilai historis yang tinggi. Ia bahkan menyebut kondisi ini sebagai bentuk kegagalan dalam menjaga jati diri bangsa.
Tak hanya satu, di sekitar lokasi masih terdapat dua prasasti lain yang mengalami nasib serupa: tertutup semak, tak terurus, dan nyaris tak dikenali.
Padahal, keberadaan tulisan “Sima I Pasambangan” pada salah satu prasasti menandakan status kawasan ini sebagai Swatantra, desa otonom pada masa kerajaan, yang pernah punya posisi penting dalam struktur pemerintahan kuno.
“Seharusnya pemerintah daerah merasa malu. Kita punya warisan sejarah berharga, tapi nyaris tak tersentuh perhatian. Kita bukan kehilangan bukti sejarah, kita sedang membiarkannya hilang perlahan,” tegas Supriyo.
Ironis, ketika narasi pembangunan dan pariwisata terus didorong, peninggalan sejarah yang menjadi akar identitas malah dipinggirkan.
Jika tak segera diselamatkan, bukan tak mungkin Prasasti Sambangan hanya tinggal nama dalam laporan penelitian, tanpa wujud, tanpa cerita.


