Kolaborasi Kirab Budaya Lokal Dengan Penampilan Sound Horeg di Acara Bancakan Salak Wonosalam Jombang
JOMBANG, FaktualNews.co – Bancakan Salak digelar oleh warga Galengdowo pada, Minggu kemarin sore (1/6). Acara tersebut menjadi simbol ucapan syukuran para petani Desa Galengdowo atas kelimpahan rezeki yang diberikan oleh Allah.
Acara bancakan salak selain menjadi simbol rasa syukur, acara tersebut menjadi salah satu ikon wisata yang saat ini sedang difokuskan oleh Pemerintah Desa Galengdowo, dengan memanfaatkan potensi yang ada mulai dari sumber daya alam, festival budaya, hingga bidang perkebunan dan peternakan. Bancakan salak tidak hanya menampilkan pagelaran arakan tumpeng hasil bumi, melainkan menampilkan kolaborasi antara budaya lokal dengan penampilan sound horeg.
Wartomo selaku Kepala Desa Galengdowo menjelaskan perlunya pengenalan budaya lokal lewat acara festival seperti ini, akan memberikan kesan tersendiri bagi penonton. Ditambah parade sound sebagai ciri khas modernitas bagi masyarakat atau anak muda saat ini.
“Acara bancakan salak tidak hanya menampilkan arakan hasil bumi. Tetapi, terdapat arakan budaya sebagai unsur kearifan lokal. Terdapat arakan budaya lokal seperti parade bertemakan Mahabarata, dan Majapahit. Tidak hanya itu saja, terdapat arakan penampilan bantengan sebagai pembuka arakan tumpeng hasil bumi. Selain budaya lokal, kami juga menggandeng penampilan saat ini yang sedang trend dikalangan anak muda, yakni penampilan sound hore. Kenapa saya tidak menyebutkan sound horeg karena kata horeg terkesan menakutkan dan mengkhawatirkan bagi saya. Jadi saya lebih senang jika nama itu diganti sound hore agar terkesan menggembirakan,”ujarnya.
Pemilihan unsur kearifan lokal sebagai pilihan utama panitia untuk mengingatkan kepada generasi milenial agar tidak melupakan budaya Jawa yang saat ini sudah mulai kalah dengan modernisasi.
“Perlunya kearifan lokal semacam ini karena sekarang anak-anak muda trendnya adalah budaya milenial. Jadi ada sebagian anak-anak muda yang sudah lupa dengan tradisi atau budaya-budaya jawa. Maka saya sisipkan kirab budaya lokal dalam acara bancakan salak, guna menekankan agar generasi muda terus menggali sejarah-sejarah budaya lokal yang sudah mulai dilupakan. Seperti kisah Mahabharata, Majapahit, Anoman Obong, dan masih banyak lagi. Sehingga, kemarin banyak parade-parade yang menampilkan kisah tersebut,”ucapnya.
Alasan Wartomo menggandengkan penampilan sound hore (Istilah penampilan sound menurut Wartomo) ke dalam unsur arakan budaya lokal karena adanya proses akulturasi budaya. Jadi percampuran budaya antara budaya lokal dengan budaya modernitas tanpa menghilang unsur atau ciri khasnya. Selian itu, perlunya unsur budaya lokal tidak tergerus oleh budaya modernitas.
“Saya tidak ingin budaya lokal kita lenyap terkikis akibat budaya modernisasi. Di lain sisi, saya juga harus bisa mengimbangi unsur modernisasi harus tetap bisa berjalan, perubahan harus tetap berjalan, namun jangan sampai melupakan tradisi lokal. Maka kami gabungkan antara unsur modernitas dengan sejarah atau budaya lokal yang ada, sehingga lokalitas masih tetap muncul,”ungkapnya.
Sementara itu, terdapat 20 tumpeng hasil bumi yang diarak oleh masyarakat Galengdowo dari Lapangan Reformasi Pengajaran sampai ke Dusun Plumpung dengan jarak kurang lebih 3,5 kilo. 20 tumpeng hasil bumi yang dibawa masyarakat, masih terdapat beberapa mobil pickup yang membawa buah salak untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang melihat.
“Total ada 20 tumpeng hasil bumi yang di bawa atau diarak menuju garis finish di Dusun Plumpung. Masing-masing kelompok terdapat mobil pickup yang membawa hasil bumi para petani buah salak pondo untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang hadir. Di tahun ini kami membedakan konsep pemberian hasil bumi berupa salak kepada masyarakat. Tahun ini kami lebih memilih untuk membagikan buah salak secara merata kepada para penonton festival yang ada di sepanjang rute. Berbeda dengan sebelumnya masyarakat masih ada yang berebut mengambil buah salak atau hasil bumi lainnya,”pungkas Wartomo (wahyu)


