JOMBANG, FaktualNews.co – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bergerak cepat mengantisipasi risiko banjir sekaligus mengamankan sektor pertanian.

Langkah konkret ini diwujudkan melalui percepatan normalisasi Afvour Dero, sebuah saluran air strategis yang menjadi bagian penting dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Watudakon.

​Proyek ini ditargetkan menyasar saluran sepanjang 4.000 meter yang melintasi dua desa di Kecamatan Kesamben, yaitu Desa Kedungbetik dan Desa Kedungmlati.

​Kepala Dinas PUPR Jombang, Imam Bustomi, menjelaskan bahwa Afvour Dero memegang peranan krusial karena bermuara langsung ke Afvour Watudakon. Oleh karena itu, kapasitasnya harus selalu prima agar fungsi pengairan dan pembuangan air tetap seimbang.

​“Kapasitas saluran harus terus dijaga agar mampu mengalirkan air dengan baik, baik untuk kebutuhan pengairan maupun pembuangan,” ujar Bustomi, Rabu (3/6/2026).

​Berdasarkan data terbaru dari Dinas PUPR, pengerjaan di lapangan menunjukkan tren positif. Di ​Desa Kedungbetik progres fisik telah rampung 100 persen sepanjang 1.565 meter. Sedangkan untuk ​Desa Kedungmlati, pengerjaan masih terus berjalan dan saat ini telah mencapai 725 meter.

​Untuk memburu target, Dinas PUPR mengerahkan alat berat berupa excavator. Alat ini dioperasikan untuk mengeruk endapan lumpur (sedimentasi), membersihkan tanaman liar, serta menata ulang bentuk saluran agar daya tampung air kembali optimal.

​Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menegaskan bahwa normalisasi ini merupakan bagian dari strategi mitigasi menghadapi perubahan pola cuaca yang tidak menentu. Dengan dikembalikannya fungsi asli Afvour Dero, beban pada sistem drainase utama dapat dikurangi secara signifikan.

​“Selain meningkatkan kapasitas aliran, kegiatan ini juga untuk mengurangi sedimentasi dan mencegah penyempitan saluran yang berpotensi menyebabkan genangan di kawasan permukiman maupun lahan pertanian,” tutur Sultoni.

​Dinas PUPR Jombang berkomitmen untuk menuntaskan proyek ini hingga seluruh panjang saluran yang direncanakan selesai dinormalisasi. Output jangka panjang yang diincar bukan sekadar membebaskan wilayah hilir dari banjir, melainkan juga menjaga urat nadi perekonomian warga.

​“Keberadaan saluran yang berfungsi optimal juga akan mendukung keberlangsungan sistem irigasi pertanian yang menjadi salah satu sektor penopang perekonomian masyarakat Jombang,” pungkas Sultoni.