Batik Ecoprint Wonosalam Jombang, Inovasi Ramah Lingkungan dari Alam Sekitar
JOMBANG, FaktualNews.co – Wonosalam tak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang asri, jajaran pepohonan rindang, dan deretan gunung yang menawan. Kecamatan berhawa sejuk di Kabupaten Jombang ini kini juga mulai dilirik karena produk batik ecoprint yang ramah lingkungan.
Salah satu pelopornya adalah Fitri Ainul Latifa (29), warga Dusun Babatan, Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam. Ia menciptakan batik ecoprint dengan memanfaatkan kekayaan hayati yang melimpah di sekitarnya.
“Memang saat ini batik ecoprint sedang tren.namun disisi lain saya tinggal di Kecamatan Wonosalam sehingga sumber daya yang saya gunakan sangat melimpah. Wonosalam yang kaya akan sumber daya alam. Semua bahan-bahan saya ambil dari lingkungan sekitar, terutama dedaunan yang jatuh namun masih bagus. Saya tidak perlu membeli daun seperti kebanyakan pengrajin ecoprint lainnya. Wonosalam memang masih sangat kaya akan alam,” ungkapnya.
Bahan Alami, Motif Unik
Fitri menggunakan kain berbahan dasar serat alami, seperti kapas, sebagai media utama. Sedangkan motif dan pewarna berasal dari dedaunan dan tumbuhan lokal.
“Bahan utama tentu kain atau kaos berbahan kapas. Motif saya buat dari daun-daun sekitar, sedangkan pewarna saya peroleh dari tumbuhan yang direbus untuk mengeluarkan warnanya,” jelasnya saat ditemui di galeri miliknya, Nusantria Omah Batik.
Ia merebus bahan pewarna alami selama 2 hingga 3 jam agar warna yang dihasilkan lebih cerah. Keunggulan batik ecoprint milik Fitri terletak pada tingkat kecerahan warna yang mencolok dan keanekaragaman motifnya.
“Warna merah, cokelat, dan ungu saya dapat dari kayu secang. Kuning dari kayu nangka, sedangkan warna cokelat bisa dari daun jati, daun alpukat, atau tanaman mangrove. Semua bahan pewarna berasal dari alam,” tambahnya.
Motif Daun yang Berlimpah
Motif yang paling diminati adalah motif abstrak atau kontemporer. Fitri menyesuaikan jenis daun dengan motif batik yang ingin dihasilkan. Kekayaan hayati Wonosalam membuatnya leluasa mengeksplorasi motif daun yang lebih padat dan bervariasi.
“Saya lebih berani menampilkan motif daun yang padat karena daunnya tersedia melimpah di sini. Saya tidak membeli, hanya memanfaatkan yang ada. Daun yang sering saya gunakan antara lain daun afrika, daun jarak, daun jati, dan sebagainya,” ujarnya.
Pemasaran Online dan Pameran
Awal mula pemasaran dilakukan secara door to door pada tahun 2020. Fitri sempat menawarkan produknya ke beberapa instansi di Jombang, meski tidak semuanya menerima.
“Sekarang saya lebih fokus ke pameran, baik di Jombang maupun luar kota. Saya pernah ikut pameran batik bordir di JCC Jakarta dan sering diajak Dinas Perdagangan untuk mengikuti berbagai acara,” paparnya.
Harga Terjangkau dan Pemberdayaan Warga
Harga batik ecoprint produksinya dibanderol lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis di pasaran. Jika umumnya batik ecoprint dijual seharga Rp200.000 per lembar, produk Nusantria milik Fitri dijual mulai dari Rp150.000 hingga Rp800.000 tergantung jenis kain.
Setiap hari, Fitri dan timnya bisa memproduksi hingga 40 potong batik. Ia juga memberdayakan 9 warga sekitar untuk turut bekerja, sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, 9 orang dari warga sekitar ikut terlibat. Ini cukup membantu penghasilan mereka,” ujarnya.
Produk Unggulan Kabupaten Jombang
Produk ecoprint Fitri sudah dua kali menjadi suvenir resmi dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Jombang, yaitu pada tahun 2024 dan 2025.
“Alhamdulillah, produk ini sudah beberapa kali jadi isian goodie bag. Tahun 2024 sebanyak 300 potong, dan insyaAllah bulan Oktober 2025 nanti saya kebagian membuat seragamnya,” tutupnya.(Wahyu)


