Mahasiswa Enam Negara Kumpul di Lamongan, Suarakan Perdamaian Dunia
LAMONGAN, FaktualNews.co-Ratusan mahasiswa dari berbagai negara berkumpul di Gedung Manaqib Hall lantai 3 Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan dalam ajang 4th International Youth Forum 2026.
Forum internasional bertema “Gen Z Against War: Youth Driving Peace in a Divided World” itu menjadi ruang dialog generasi muda lintas negara untuk menyuarakan perdamaian dunia di tengah meningkatnya konflik global.
Rektor Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan, Muhammad Hafidh Nashrullah, mengatakan forum internasional tersebut menjadi wadah penting bagi mahasiswa lintas negara untuk bertukar pandangan mengenai isu perdamaian dunia sekaligus memperkuat hubungan antarbudaya.
“Mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun komunikasi dan toleransi di tengah perbedaan budaya maupun latar belakang,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari Culmination of SEA Teacher Program tersebut menghadirkan delegasi mahasiswa dari Indonesia, Yaman, Timor Leste, Filipina, Afghanistan, hingga Thailand. Mereka menyampaikan gagasan tentang dampak perang, pentingnya toleransi, serta peran strategis generasi muda dalam menjaga nilai kemanusiaan.
Forum berlangsung melalui sesi diskusi interaktif dan penyampaian gagasan dari masing-masing delegasi negara. Delegasi Indonesia, Avarel Ghilman Prabowo, menilai keberagaman harus dijadikan kekuatan untuk memperkuat persatuan. Ia menekankan nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi penting dalam membangun perdamaian di tengah perbedaan budaya, agama, dan pandangan politik.
“Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan. Melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika, generasi muda harus mampu menjaga toleransi dan membangun perdamaian di tengah perbedaan budaya, agama, maupun pandangan,” ujar Avarel Ghilman Prabowo.
Suasana forum semakin emosional ketika delegasi Yaman, Amr Mohammed Mansoor Shaalan, menceritakan dampak perang yang masih melanda negaranya. Menurutnya, konflik berkepanjangan tidak hanya menghancurkan bangunan dan fasilitas publik, tetapi juga memutus harapan generasi muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
“Perang bukan hanya menghancurkan bangunan dan kota, tetapi juga merampas harapan, pendidikan, dan masa depan generasi muda. Karena itu, saya percaya pemuda di seluruh dunia harus bersatu menyuarakan perdamaian, bukan kebencian. Kami ingin dunia melihat bahwa anak muda mampu menjadi jembatan kemanusiaan di tengah perbedaan,” ujar Amr.
Delegasi Timor Leste, Nadia Da Costa Pereira Al-Fath, menegaskan pentingnya dialog dan diplomasi sebagai jalan utama menyelesaikan konflik antarnegara.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran besar dalam menciptakan ruang komunikasi yang sehat di tengah perbedaan.
“Perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan. Melalui dialog dan saling menghargai, generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam menciptakan dunia yang lebih damai dan harmonis,” kata Nadia.
Hal senada disampaikan delegasi Afghanistan, Rahimullah Barai. Ia menilai pendidikan dan kepedulian sosial menjadi fondasi penting dalam membangun kembali nilai kemanusiaan di negara yang dilanda konflik.
“Pendidikan dan kepedulian sosial adalah fondasi penting untuk membangun kembali harapan di tengah konflik. Generasi muda harus hadir membawa semangat kemanusiaan, bukan perpecahan,” ujarnya.
Sementara itu, delegasi Thailand, Miss Kameelah Hayeesaleh, mengingatkan Generasi Z agar lebih bijak memanfaatkan teknologi dan media sosial.
Ia menilai ruang digital seharusnya digunakan untuk memperkuat toleransi dan menyebarkan pesan perdamaian.
“Media sosial dan teknologi harus menjadi alat untuk menyebarkan perdamaian, bukan kebencian. Generasi Z memiliki kekuatan besar untuk membangun toleransi dan saling memahami meski berasal dari budaya yang berbeda,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan seruan bersama untuk memperkuat solidaritas generasi muda dunia dalam menjaga perdamaian, toleransi, dan nilai kemanusiaan di tengah tantangan global yang terus berkembang.


