Hidup Tanpa Keluarga, Dua Lansia di Sampang Tinggal di Gubuk Reot
SAMPANG, FaktualNews.co – Hidup tanpa keluarga dan sanak saudara, dua lansia, Masdijha (70) dan adiknya, Patha (60), di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, harus menghabiskan hari tua mereka di sebuah gubuk rapuh yang bocor dan nyaris roboh.
Kondisi Masdijha (70) dan adiknya, Patha (60), menjadi gambaran nyata ketimpangan sosial di tengah pembangunan daerah yang terus berjalan.
Kedua lansia tersebut tinggal di Dusun Lenteng, Desa Nyeloh, dalam bangunan sederhana berukuran sekitar 5 x 7 meter yang difungsikan sebagai rumah sekaligus dapur.
Gubuk berdinding anyaman bambu yang mereka tempati tampak lapuk, berlubang, dan tidak memenuhi standar rumah layak huni.
Kesulitan hidup mereka kian terasa saat musim hujan datang. Air dengan mudah masuk melalui atap dan dinding yang bocor hingga menggenangi lantai.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari terganggu, bahkan untuk memasak. Sebaliknya, saat siang hari udara di dalam gubuk terasa panas menyengat, sementara malam hari dingin menusuk tubuh.
Beban hidup semakin berat setelah Masdijha mengalami patah tulang akibat terjatuh ke dalam sumur. Sejak kejadian tersebut, ia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur sederhana tanpa alas kasur yang layak.
Keterbatasan juga terlihat dari minimnya fasilitas di dalam rumah. Penerangan hanya mengandalkan satu lampu listrik yang disambungkan dari rumah tetangga dengan biaya sekitar Rp10 ribu per bulan. Perabot rumah tangga hampir tidak ada, termasuk alas tidur yang memadai.
“Kami hanya tinggal berdua. Saya dan kakak saya tidak punya anak dan tidak punya keluarga lain. Sejak kecil sudah ditinggal orang tua,” ujar Patha dengan suara lirih, Senin (12/1/2026).
Patha mengaku, setiap musim hujan tiba, dirinya hanya bisa menutup celah-celah dinding gubuk menggunakan kain seadanya agar air tidak semakin banyak masuk.
Meski hidup serba kekurangan, ia tetap berusaha bertahan dan tidak ingin sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang lain.
Bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Patha terpaksa menjual satu-satunya sapi yang mereka miliki, terutama setelah kondisi kesehatan kakaknya memburuk dan membutuhkan biaya hidup.
“Alhamdulillah, saya pernah menerima bantuan Rp900 ribu yang diambil di kantor pos. Dulu kami punya sapi, tapi setelah kakak saya jatuh ke sumur dan patah tulang, sapi itu kami jual untuk kebutuhan hidup,” ungkapnya.
Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Nyeloh, Nuning Fanani, membenarkan adanya dua lansia kakak beradik yang hidup dalam kondisi memprihatinkan tersebut dan memasukkan keduanya dalam daftar penerima bantuan kesejahteraan.
“Iya mas, kondisi mereka sudah kami ketahui. Mereka terdaftar sebagai penerima bantuan kesra dan pengambilannya melalui PT Pos Cabang Kedungdung. Dari pihak desa juga sering memberikan bantuan,” pungkasnya. (Zainullah)


