JOMBANG, FaktualNews.co – Di tengah dominasi budaya Jawa yang berkembang di Kabupaten Jombang, terdapat sebuah desa yang masih mempertahankan identitas budaya Madura secara kuat. Desa Manduro yang berada di Kecamatan Kabuh menjadi salah satu wilayah unik karena masyarakatnya masih menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari serta menjaga berbagai tradisi leluhur yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Kepala Desa Manduro, Jamilun, menjelaskan bahwa keberadaan komunitas berbudaya Madura di kawasan tersebut memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Berdasarkan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, warga Manduro dipercaya berasal dari keturunan prajurit Majapahit yang berasal dari Pulau Madura.

“Menurut cerita para leluhur, masyarakat Manduro merupakan keturunan prajurit Majapahit asal Madura. Keberadaan mereka di wilayah ini diperkirakan sudah berlangsung sekitar 500 tahun sejak masa keruntuhan Kerajaan Majapahit,” ujar Jamilun Selasa (9/6/2026).

Ia menuturkan bahwa nama Manduro mulai digunakan pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1913 hingga 1914. Penamaan tersebut diberikan oleh Carik Wayo yang saat itu menjabat sebagai sekretaris desa. Nama itu terinspirasi dari tokoh dan simbol dalam kisah pewayangan yang berkaitan dengan perjalanan Prabu Baladewa.

Selain memiliki nilai sejarah yang kuat, Desa Manduro juga dikenal dengan kehidupan spiritual masyarakatnya yang masih terjaga. Salah satu lokasi yang dihormati warga adalah makam Buyut Niko atau yang dikenal sebagai Tuan Nata. Tokoh tersebut dipercaya sebagai leluhur sekaligus pendiri komunitas masyarakat Manduro.

Di kawasan makam itu masih berlaku sejumlah ketentuan adat yang dipatuhi oleh masyarakat. Perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan memasuki area makam, sedangkan laki-laki yang hendak berziarah diwajibkan dalam kondisi suci.

Jamilun mengatakan aturan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

“Adat yang berlaku di kawasan makam hingga sekarang masih dipatuhi masyarakat. Ini menjadi bagian dari warisan budaya yang kami hormati dan lestarikan,” katanya.

Desa Manduro juga menyimpan sejumlah situs bersejarah yang diyakini berkaitan dengan masa kejayaan Majapahit. Beberapa di antaranya adalah Gunung Kemendung, Sendang Weji, dan Situs Jeladri yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari sejarah lokal masyarakat setempat.

Tidak hanya menjaga situs sejarah, warga Manduro juga aktif melestarikan kesenian tradisional. Salah satu tradisi yang masih rutin digelar adalah pertunjukan Sandur yang dilaksanakan setiap Jumat Legi pada bulan Selo dalam kalender Jawa.

Sebelum pementasan berlangsung, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan ritual Sentren. Prosesi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyucian gamelan dan para penari di kawasan Gunung Kemendung.

Selain itu, masyarakat juga secara berkala menggelar Selamatan Bari’an setiap Jumat Legi. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga desa.

Menurut Jamilun, tantangan modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan identitas budaya yang telah diwariskan para leluhur. Ia berharap generasi muda tetap memiliki kesadaran untuk menjaga bahasa dan tradisi yang menjadi ciri khas Desa Manduro.

“Kami berharap generasi penerus terus menggunakan bahasa Madura dan menjaga adat istiadat yang sudah diwariskan selama ratusan tahun. Ini merupakan identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Manduro,” tegasnya.

Bagi warga Desa Manduro, bahasa Madura tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan pengingat sejarah panjang yang telah membentuk identitas masyarakat hingga saat ini. (KabarJombang.com)