SAMPANG, FaktualNews.co – Sebanyak 333 peserta didik Sekolah Rakyat Terintegrasi Sampang akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai Jumat (31/7/2026). Kegiatan ini menjadi tahap awal bagi para siswa untuk beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama (boarding school).

MPLS digelar di kompleks Sekolah Rakyat yang berada di Desa Sejati, Kecamatan Camplong. Selain mengenalkan lingkungan sekolah, siswa akan dibekali berbagai materi untuk mempersiapkan kehidupan mandiri selama tinggal di asrama.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Sampang, Denok Setyowati, mengatakan MPLS dirancang agar peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan pola pendidikan berbasis asrama.

“Karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem boarding school, anak-anak akan mendapatkan materi kehidupan berasrama, mulai dari pembiasaan hidup mandiri, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hingga pengembangan life skill seperti mencuci pakaian sendiri,” ujar Denok, Kamis (30/7/2026).

Selain pengenalan kehidupan berasrama, siswa juga akan menjalani matrikulasi untuk memetakan kemampuan akademik dan potensi masing-masing. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi acuan sekolah dalam menyusun strategi pembelajaran sesuai kompetensi peserta didik.

“Rangkaian MPLS juga meliputi pemeriksaan kesehatan gratis, tes kebugaran, dan psikotes. Hasil pemetaan kemampuan akademik serta potensi berdasarkan DNA talent nantinya menjadi salah satu dasar penyusunan pembelajaran selama siswa menempuh pendidikan,” jelasnya.

Menurut Denok, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Melalui kehidupan berasrama, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar di kelas. Mereka juga dibentuk melalui kehidupan berasrama, penguatan karakter, nilai-nilai keagamaan, dan ke depan kami ingin mengembangkan kemampuan life skill, khususnya di bidang kewirausahaan,” katanya.

Ia menambahkan, secara nasional Sekolah Rakyat juga memiliki program pembekalan tiga bahasa asing serta satu kompetensi yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Kompetensi tersebut dapat berupa seni, olahraga, maupun keterampilan lainnya.

Di Sampang, pengembangan kewirausahaan akan menjadi salah satu program unggulan yang diharapkan mampu membekali lulusan dengan keterampilan praktis.

“Harapannya, lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga keterampilan yang siap diterapkan di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” imbuh Denok.

Selama MPLS, orang tua siswa juga akan dilibatkan melalui kegiatan open house. Dalam kegiatan tersebut, pihak sekolah akan memperkenalkan fasilitas pendidikan dan asrama sekaligus menjelaskan sistem pembelajaran yang akan dijalani peserta didik.

Denok berharap keberadaan Sekolah Rakyat mendapat dukungan masyarakat sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.

“Pendidikan yang dibekali karakter dan keterampilan menjadi bekal penting dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan,” pungkasnya.

Pada tahun ajaran perdana, Sekolah Rakyat Terintegrasi Sampang menerima 333 peserta didik yang berasal dari empat kabupaten di Madura. Rinciannya, 211 siswa berasal dari Sampang, 45 siswa dari Bangkalan, 47 siswa dari Sumenep, dan 30 siswa dari Pamekasan.