Beda Hari Raya, Kemenag Jombang Ajak Warga Tetap Rukun
JOMBANG, FaktualNews.co – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali terjadi p
ada tahun 2026. Di tengah potensi perbedaan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jombang, Muhajir, mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan dan saling menghormati.
Muhajir menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal Syawal bukanlah hal baru di Indonesia. Menurutnya, perbedaan metode antara hisab dan rukyatul hilal sudah menjadi dinamika yang selama ini berjalan dengan baik.
“Ya kita sudah biasa berbeda. Jadi ibarat sandal jepit, ada kanan dan kiri. Kalau dinikmati, harmonisasinya justru luar biasa,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu memperdebatkan perbedaan tersebut secara berlebihan. Justru, momentum Idulfitri harus dijadikan sebagai ajang mempererat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan.
“Saya menghargai dan menghormati. Yang berlebaran lebih awal, silakan menjalankan sesuai keyakinannya. Begitu juga yang berlebaran di hari berikutnya, kita saling menghormati,” lanjutnya.
Muhajir juga mengimbau agar masyarakat tetap menjaga suasana kondusif, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Ia mengingatkan bahwa nilai utama Idulfitri adalah kembali kepada kesucian, termasuk dalam sikap dan perilaku sosial.
“Jangan sampai perbedaan ini menimbulkan gesekan. Justru ini menjadi ujian kedewasaan kita dalam beragama dan bermasyarakat. Mari kita jaga kebersamaan, karena persatuan itu jauh lebih penting,” tegasnya.
Muhajir juga mengajak masyarakat untuk tetap fokus pada esensi ibadah Ramadan dan Idulfitri, yakni meningkatkan ketakwaan serta memperkuat kepedulian sosial.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai Ramadan dengan baik dan merayakan Idulfitri dengan penuh rasa syukur, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi. Perbedaan ini diharapkan tetap menjadi bagian dari keberagaman yang memperkaya, bukan memecah belah masyarakat,” pungkasnya.


