JOMBANG, FaktualNews.co-Bagi mayoritas masyarakat Jawa, nasi adalah makanan pokok yang tak tergantikan. Namun, hal itu tidak berlaku sepenuhnya bagi Ali Imron (54), warga Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang.

Pria yang akrab disapa Imran ini memiliki ketergantungan unik yang membuatnya dijuluki sebagai “Manusia Kelapa” karena menempatkan kelapa di atas nasi sebagai kebutuhan primer tubuhnya.

​Selama puluhan tahun, pria yang bekerja serabutan dan kerap mengojek pangkalan ini mengaku tidak bisa menelan makanan apa pun jika tidak didampingi buah kelapa.

Baginya, kelapa bukan lagi sekadar pelengkap atau lauk, melainkan menu utama wajib dalam kesehariannya.

​Kebiasaan ekstrem ini diakui Imran sudah berlangsung sejak ia masih balita. Seiring bertambahnya usia hingga kini memiliki cucu, kondisi biologis tubuhnya justru semakin menolak makanan jika tidak ada unsur kelapa di dalamnya.

​Imran menceritakan bahwa dirinya pernah mencoba memaksa diri untuk makan seperti orang normal pada umumnya, yakni mengonsumsi nasi tanpa kelapa. Namun, respons tubuhnya justru mengerikan.

​”Nggak bisa masuk ke mulut, ke tenggorokan ini. Rasanya pengin langsung dimuntahkan. Pernah dicoba dipaksa, akhirnya saya ngejer (gemetar) sampai keluar keringat dingin,” kenang Imran saat ditemui di kediamannya Senin (19/5/2026).

​Ketergantungan ini begitu kuat hingga merambah ke seluruh jenis kuliner. Mulai dari gorengan, mi pangsit, mie ayam, bakso, ketela, roti, hingga kerupuk, semuanya tidak akan bisa lolos ke lambungnya tanpa parutan atau potongan kelapa.

​Uniknya, meski berprofesi sebagai pekerja fisik yang membutuhkan banyak energi, Imran justru bisa bertahan hidup tanpa mengonsumsi nasi dalam waktu yang lama. Baginya, karbohidrat dari nasi bisa digantikan, tetapi kelapa tidak.

​”Lebih baik saya tidak makan nasi, tapi makan kelapa. Pernah waktu di Bromo dua minggu nggak makan kelapa dan nggak ada nasi, alternatif saya makan kacang untuk proteinnya. Dan alhamdulillah di tubuh saya nggak ada efek apa-apa, seperti kolesterol atau asam urat itu nggak ada sama sekali,” tuturnya.

​Dalam sehari, sang istri, Lestari (52), minimal menyediakan satu hingga dua butir kelapa di rumah. Jumlah ini merupakan standar minimal yang disesuaikan dengan anggaran dapur keluarga. Jika sedang merasa kurang, Imran tak segan-segan merogoh kocek sendiri untuk membeli kelapa tambahan di pasar.

​”Satu biji bahkan dua biji kelapa itu sekali duduk bisa habis saya makan. Bahkan, kalau di rumah tidak ada kelapa, saya lebih memilih tidak makan” tambah Imran.

​Kebiasaan unik “Manusia Kelapa” ini rupanya sudah sangat dipahami lingkungan sekitar.

​Saking tolerannya lingkungan sekitar, para tetangga di Desa Mojongapit yang hendak menggelar hajatan biasanya sudah paham dan sengaja menyiapkan kelapa khusus untuk Imran.

Jika tidak, Imran punya trik sendiri agar tetap bisa menghargai jamuan tetangga tanpa menyiksa tubuhnya.

​”Biasanya saya bawa kelapa sendiri, saya taruh dalam saku atau tas. Untuk jagani (berjaga-jaga) kalau ada orang nawari makan saat cangkruk atau kondangan,” ujar Imran sembari tertawa.

​​Meski memiliki pola konsumsi yang tidak lazim dan tinggi lemak jenuh, Imran mengaku kondisi pencernaan dan kesehatannya secara umum tetap prima dan normal. Ia menganggap kemampuan ini sebagai “bakat” bawaan sejak lahir yang kemungkinan dipicu saat sang ibu mengidam kelapa ketika mengandungnya dulu.

​Menariknya, fenomena biologis ini tampaknya berhenti di Imran. ​Sebenarnya, salah satu cucu Imran sempat menunjukkan tanda-tanda menyukai kebiasaan sang kakek, namun langsung dilarang oleh sang nenek demi menjaga pola makan yang wajar.