Tim Gabungan BRIN-EFEO Paris Teliti Prasasti Angka Tahun di Situbondo, Perkuat Basis Data Sejarah Digital
SITUBONDO, FaktualNews.co – Tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama École française d’Extrême-Orient (EFEO) Paris melakukan penelitian terhadap prasasti angka tahun di Kabupaten Situbondo. Kegiatan tersebut diawali dengan kunjungan ke Museum Balumbung di Desa Asembagus, Kecamatan Asembagus, sebelum melanjutkan observasi ke sejumlah situs prasasti.
Kunjungan dipimpin Kepala EFEO Jakarta, Prof. Arlo Griffiths, sebagai bagian dari proyek kolaborasi BRIN dan EFEO yang telah berlangsung sejak 2022. Penelitian ini berfokus pada pendataan prasasti yang selama ini belum banyak mendapat perhatian, khususnya prasasti yang hanya memuat angka tahun.
Prof. Arlo Griffiths menjelaskan, seluruh data yang dihimpun akan dimasukkan ke dalam basis data digital yang terhubung dengan arsip EFEO di Paris sehingga dapat diakses secara daring oleh peneliti maupun masyarakat.
“Database digital ini nantinya akan terhubung dengan arsip EFEO di Paris dan bisa diakses secara daring. Tujuannya agar data sejarah dapat dimanfaatkan oleh akademisi dan masyarakat luas tanpa harus merusak fisik prasastinya,” ujar Prof. Arlo.
Sebelum melakukan penelitian lapangan, tim mengamati Prasasti Agel yang berasal dari Kecamatan Jangkar dan kini tersimpan di Museum Balumbung. Observasi dilakukan untuk mempelajari gaya penulisan serta konteks angka tahun yang tertera pada prasasti tersebut.
Menurut Prof. Arlo, pendataan ini menjadi bagian dari upaya menghimpun Informasi Data Digital (IDD) prasasti di seluruh Pulau Jawa.
Tim riset terdiri atas enam peneliti dari BRIN dan EFEO. Dari BRIN, tim dipimpin Dr. Titi Surti Nastiti bersama Ni Luh Suwita Utami dan Cepi Edwi. Sementara dari EFEO bergabung Prof. Arlo Griffiths, Eko Bastiawan, serta Garin Dwiyanto Pharmasetiawan, mahasiswa magang dari SOAS University of London.
Usai melakukan observasi di museum, tim melanjutkan penelitian ke situs Prasasti Widoro Pasar di Dusun Widoro Pasar, Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.
Ketua Tim BRIN, Dr. Titi Surti Nastiti, mengatakan prasasti di lokasi tersebut memiliki nilai penting karena sebagian besar hanya memuat angka tahun, jenis prasasti yang masih jarang diteliti secara khusus.
“Kemungkinan besar kami adalah tim pertama yang datang khusus ke situs ini. Prasasti di sini sebagian besar hanya terbaca angka tahunnya. Peneliti yang secara khusus mengkaji prasasti angka tahun memang masih sangat sedikit,” ujarnya.
Ia menilai prasasti semacam ini kerap diabaikan karena tidak memuat narasi panjang. Padahal, angka tahun yang tertera mampu memberikan informasi penting mengenai sistem penanggalan, dinamika kekuasaan, hingga jaringan perdagangan pada masa lampau.
“Tujuan utama kami adalah mendata dan mendigitalisasi prasasti ini agar datanya dapat dimanfaatkan siapa saja tanpa harus menyentuh fisik batunya. Ini merupakan upaya penyelamatan sekaligus pelestarian data sejarah,” tegas Titi.
Dalam penelitian tersebut, tim memanfaatkan teknologi pemindaian tiga dimensi (3D scanning) dan fotografi beresolusi tinggi. Teknologi ini memungkinkan isi prasasti didokumentasikan secara detail, diarsipkan, serta dipublikasikan tanpa harus memindahkan ataupun menggosok permukaan batu.
Menurut Titi, kerja sama BRIN dan EFEO diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian warisan budaya Indonesia sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat terhadap data sejarah.
Tim gabungan dijadwalkan masih akan melanjutkan penelitian ke sejumlah situs bersejarah lain di Jawa Timur hingga akhir tahun. Seluruh hasil pendataan nantinya akan menjadi bagian dari basis data digital nasional yang dapat diakses publik melalui portal resmi BRIN dan EFEO.


