SITUBONDO, FaktualNews.co – Warga di sekitar Pabrik Gula (PG) Panji, Situbondo mengeluhkan polusi debu dari aktivitas produksi gula (tolato) yang mencemari udara dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Meski dampak musim giling tersebut sudah mulai berkurang karena penanganan optimal pihak pabrik, bagi warga, masalah abu ini bukan sekadar dampak operasional biasa, melainkan ancaman kenyamanan lingkungan. Terutama saat cuaca panas dan angin kencang, material abu yang mengering sangat mudah terbang ke pemukiman.

Ahmad, seorang warga setempat, mengatakan pengendalian debu sangat krusial agar operasional pabrik tidak mengorbankan kenyamanan warga. Namun dia mengonfirmasi bahwa kondisi udara saat ini jauh lebih bersih dibanding sebelumnya.

Perubahan positif ini dirasakan langsung oleh masyarakat setelah manajemen pabrik mengoptimalkan alat penangkap abu dan rutin menyiram area penampungan.

“Saat ini tolato yang beterbangan sudah berkurang jauh. Kami berharap optimalisasi alat penangkap debu dan penyiraman ini terus konsisten dilakukan agar abu tidak masuk ke permukiman,” ujar Ahmad, Sabtu (8/8/2026).

Keluhan tersebut direspons serius oleh manajemen PG Panji. Pihak pabrik kini fokus menekan sumber polusi dengan memastikan seluruh perangkat pengendali emisi bekerja tanpa henti.

Manajer Teknik PG Panji, Bahtiar Yudistira, menjelaskan bahwa pihaknya mengandalkan teknologi wet dust collector (penangkap debu basah). Alat ini menyemprotkan air untuk menangkap abu hasil pembakaran ketel sebelum materialnya masuk ke bak pengendap.

“Alat wet dust collector ini bekerja menggunakan spray air untuk mengikat abu pembakaran,” kata Bahtiar.

Abu yang terikat kemudian dialirkan ke bak pengendapan khusus untuk mencegah penumpukan. Dalam sehari, pabrik mampu mengangkut puluhan ton limbah abu tersebut.

“Dari bak pengendap, sekitar 40 ton abu berhasil kami angkut setiap 24 jam untuk dibuang ke tempat penampungan akhir,” jelasnya.

Bahtiar menambahkan, perangkat ini beroperasi nonstop setiap hari. Tim mekanik juga melakukan inspeksi rutin guna memastikan performa alat tetap prima selama musim giling berlangsung. Hasilnya, dampak polusi tahun ini diklaim jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya.

“Jika dibandingkan tahun-tahun lalu, sebaran tolato saat ini jauh lebih terkendali,” imbuh Bahtiar.

Selain mengandalkan mesin, PG Panji melakukan penyiraman manual secara berkala di area penampungan luar. Langkah ini menjaga material abu tetap basah sehingga tidak terbang saat diterjang angin kencang.

Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus menyeimbangkan target produksi pabrik dengan kenyamanan ekologis masyarakat sekitar.

“Kami terus berupaya mengendalikan debu kering dengan penyiraman air secara berkala agar tidak mengganggu aktivitas warga,” pungkasnya.