JOMBANG, FaktualNews.co-Tradisi Wayang Topeng di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang masih bertahan di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Kesenian tradisional tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga dianggap sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.

Di salah satu rumah warga, puluhan topeng kayu tersimpan rapi di dalam peti lama. Aroma bunga yang diletakkan di sekitar tempat penyimpanan menambah kesan sakral terhadap benda-benda peninggalan leluhur tersebut. Warga setempat memperlakukan topeng-topeng itu sebagai pusaka yang harus dijaga dan dirawat secara turun-temurun.

Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya, Isma Hakim Rahmat, menjelaskan bahwa pola pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur memiliki kemiripan dengan pementasan wayang kulit.

Dalam pertunjukan, dalang memegang peranan penting untuk mengatur jalannya cerita hingga mengarahkan para penari.

“Dalang menjadi pusat pertunjukan karena seluruh alur cerita, dialog, dan gerakan penari dikendalikan olehnya,” ujar Hakim, Kamis (14/5/2026).

Menurut cerita masyarakat setempat, kesenian itu pertama kali berkembang melalui sosok Ki Purwo yang dikenal sebagai maestro wayang topeng di desa tersebut.

Hingga kini, peninggalan berupa puluhan topeng masih dirawat oleh keturunannya.

Jumlah topeng warisan yang tersimpan mencapai 33 buah.

Sebagian warga percaya topeng-topeng tersebut memiliki nilai spiritual sehingga tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Bahkan, terdapat keyakinan bahwa topeng harus dikembalikan ke punden desa apabila tidak mampu dirawat dengan baik.

Salah satu topeng yang paling dikenal masyarakat ialah Topeng Klono. Topeng berwarna emas dengan karakter bangsawan itu dipercaya memiliki nilai simbolik dan sering dikaitkan dengan upaya pengobatan tradisional warga.

Hakim menuturkan, Topeng Klono kerap digunakan masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan sehingga proses penyimpanannya dilakukan melalui ritual tertentu.

“Setelah pementasan selesai, topeng dibungkus kain dan disimpan kembali di kotak khusus. Tradisi tabur bunga juga tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” katanya.

Karena dianggap sakral, topeng asli jarang digunakan untuk latihan rutin. Para penari biasanya memakai replika agar koleksi utama tetap awet dan terjaga kondisinya.

Selain menjadi pertunjukan budaya, Wayang Topeng Jatiduwur juga sering dipentaskan untuk memenuhi nazar maupun ungkapan rasa syukur masyarakat. Kisah yang dibawakan umumnya berasal dari Sastra Panji yang menceritakan perjalanan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji.

Beberapa lakon yang paling sering dipentaskan di antaranya Patah Kuda Narawangsa dan Wiruncana Murca.

Meski demikian, dalang tetap memiliki kebebasan untuk mengembangkan cerita sesuai kreativitas masing-masing.

Di sisi lain, upaya regenerasi pelaku seni mulai terlihat di Desa Jatiduwur. Jika sebelumnya pertunjukan lebih banyak dimainkan generasi tua, kini kalangan muda mulai ikut ambil bagian dalam pementasan wayang topeng.

Budayawan Jombang, Nasrul Illah atau yang akrab disapa Cak Nas, menilai pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur perlu dibarengi edukasi budaya kepada generasi muda.

“Wayang topeng bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menyimpan nilai kehidupan dan identitas budaya masyarakat yang penting dikenalkan kepada anak-anak muda,” ujarnya.

Ia bersama sejumlah seniman kini mendorong Desa Jatiduwur menjadi kampung edukasi Wayang Topeng Panji agar tradisi tersebut tetap hidup dan mampu berkembang mengikuti zaman.